LAGI LAGI BOLA

14 07 2010

Perhelatan akbar sepakbola yang berjudul World Cup 2010 atau kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Piala Dunia 2010 sudah selesai. Ada yang berbahagia, ada yang bersedih. Tapi yang pasti seluruh dunia ikut merayakannya. Ajang olahraga yang paling popular sedunia.

Yang namanya pertandingan sepakbola bisa dipastikan bakal  menciptakan keramaian. Seperti yang saya alami pada zaman dahulu kala ini. Sore itu halte Transjakarta Harmoni dipenuhi lautan manusia yang mengantri dan berjalan hilir mudik. Kemana tujuan mereka semua, jangan tanya saya. Saya nggak akan bisa menjawabnya. Saya bukan Tuhan.

Diantara kumpulan manusia itu yang lebih jelas tujuannya mungkin adalah sekelompok orang yang mempergunakan atribut oranye. Mereka adalah para pendukung kesebelasan Persija, yang lebih dikenal dengan sebutan Jakmania atau The Jak.

Jumlah anggota Jakmania yang mengisi halte mungkin hampir sepertiga dari manusia-manusia yang ada saat itu. Sebagian terlihat tertib mengantri di barisan yang semakin lama semakin panjang karena bis pengangkut tak kunjung datang. Sayangnya sikap tertib itu tidak diikuti sebagian kawan mereka yang lain. Beberapa oknum terlihat mendorong-dorong atau menyela dalam barisan. Tentu saja hal ini mengakibatkan kegaduhan. Saya yang kebetulan dibawa oleh Tuhan untuk berada di situ, termasuk ke dalam kaum yang ikut terdorong-dorong.

Di sebelah saya seorang laki-laki muda dan beberapa gadis muda ikut mengantri. Muka mereka terlihat masam, untung tidak ada ibu hamil, kan berabe kalau ibu hamil jadi ngidam sama muka mereka yang masam.

Si laki-laki tiba-tiba berkata: “ Ini apaan sih? Mau nonton bola aja sampe begini…mending yang ditonton MU (baca: em yu…akronim dari Manchester United klub sepakbola terkenal dari Inggris)gitu…lha ini Persija.”

Entah apa maksudnya , si laki-laki berkata begitu. Mungkin ingin mengambil hati gadis-gadis muda yang ada di sebelahnya. Andai saja dia menyadari betapa sulitnya mengambil hati mereka, sebab diperlukan alat bedah lengkap dan tentunya ijazah dokter spesialis…dengan begitu mungkin dia tidak akan berusaha mengambil hati mereka.

Mendengar perkataan itu, enatah mengapa saya jadi tersentil sesentil-sentilnya. Memangnya kalau pendukung MU, lantas boleh main dorong-dorongan seperti ini? Memangnya pendukung tim-tim besar sepakbola dibolehkan berbuat seenak udelnya sendiri? padahal belum terbukti juga udel mereka enak…

“Mas, begini ya. Jangan mentang-mentang pendukung tim terkenal lantas bisa berbuat semaunya. Pendukung siapapun itu, mau pendukung MU, pendukung Ariel, pendukung Pancasila, ataupun pendukung demokrasi, atau apalah kalau perilakunya semaunya sendiri, semena-mena, dan merugikan orang banyak tetap saja saya tidak akan tolerir. Tidak akan mendapat respek dari orang banyak, dan malah mungkin dicela.”

“Lagipula anda ini orang mana sih? Kok lebih membanggakan tim dari negara lain? Pasti kalau ada pertandingan sepakbola Persija VS MU, anda bakal mendukung MU habis-habisan. Mana nasionalisme-mu? “

Ingin saya berkata begitu di depan mukanya supaya dia tidak asal ngomong saja. Ah, tapi sayang sekali saya terpaksa menelan lagi kata-kata itu. Rasanya tidak pantas saya mengeluarkannya, karena…

Karena…

Karena hari itu saya pakai baju dengan logo MU di dada kiri. Setan Merah di dadaku…(kemana kau garuda?)

Makanya jangan percaya sama saya….musyrik itu namanya, percaya ya sama Tuhan dong!

Iklan