FACEBOOK & MAC GYVER

12 03 2009

facebook-acak

Facebook. Pasti banyak yang tahu apa itu Facebook. Apalagi kita-kita yang sudah bergulat dengan budaya urban zaman sekarang. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah blog atau forum atau apa gitu saya lupa, pokoknya di situ yang dibahas adalah seputar Facebook.

Pertanyaan yang muncul di sini adalah AADF….Ada Apa Dengan Facebook?

Nah…waktu itu yang saya baca adalah tentang seseorang (saya lupa siapa jadi kita namakan saja Mr.X) yang mengajukan sebuah pertanyaan menggelitik tentang Facebook.Karena menggelitik, jadi saya bacanya nggak bisa lama-lama sebab kegelian sendiri. Dan memang pertanyaannya agak sedikit nakal. Sebuah pertanyaan sederhana namun mengandung sebuah filosofi yang mendalam sehingga mampu memporakporandakan segala definisi kita tentang kehidupan, tempat kita berasal dan tujuan akhir hidup manusia atau bahasa jawanya sangkan paraning dumadi, dan hubungan antara manusia sebagai mikrokosmos dengan alam semesta untuk membentuk sebuah sinergi yang….

STOP…STOP…STOP!!! ini udah ngalor ngidul nggak jelas, kata-katanya nggak nyambung….lalu pertanyaannya apa?

Oke…seseorang atau Mr.X itu bertanya…

Penting nggak sih sebenarnya punya akun Facebook itu? (oalaaaah…udah ngalor ngidul begitu kok ternyata pertanyaannya nggak intelek! sori Mr.X ini yang ngomong pembaca, bukan saya) apalagi dihubungkan dengan marketing, memperluas jaringan, dll…jadi Mr. X ini lalu minta saran dan pendapat pembaca artikel itu.

Kebanyakan menjawab…PENTING, dengan segudang alasannya seperti ya itu tadi, bisa untuk memperluas jaringan bisnis, menambah koneksi, cari kawan baru dengan minat yang sama, dan lain-lain. Yang menjawab NGGAK PENTING…meskipun tidak terlalu banyak tapi sepertinya perlu diperhitungkan karena keras sekali suaranya. Mereka beralasan antara lain bahwa situs pertemanan karya Mark Zuckerberg ini hanya trend sesa[a]t (ini ngikutin gaya penulisannya Ichanx) karena nanti beberapa bulan atau tahun juga mungkin ada yang lebih menarik (bercermin dari friendster), atau ada juga yang merasa bahwa pertemanan di facebook ini terasa semu, menghabiskan waktu, dll.

Sepertinya kedua kubu sama-sama memberikan alasan yang masuk akal dan kalau dipikir-pikir ya semua ada benarnya. Di milis angkatan almamater kuliah saya masalah penting atau nggak-nya facebook ini ini juga sempat jadi bahan perdebatan, bahkan sampai agak panas karena ada sedikit kesalahpahaman. Oalah…mbahas facebook kok bisa bikin panas-panasan segala.

Kembali ke Mr.X, saya nggak bisa memberi jawaban PENTING atau NGGAK PENTING. Semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Memang kedengarannya klise ya, tapi begini, menurut saya sesuatu hal akan bisa menjadi penting atau nggak tergantung apakah kita tahu seberapa jauh hal itu bisa dimanfaatkan, dan bagaimana cara memanfaatkannya. Misal, sebuah kuas mungkin akan jadi penting di tangan maestro pelukis Affandi (alm.) dibandingkan benda itu ada di tangan kita. Sebuah alat cangkul akan jadi bermanfaat dan berhasil guna di tangan petani daripada berada di tangan pekerja kantoran. Satu contoh lagi deh ya…biar sesuai sama judul tulisannya, buah pinus dan getah pinus, di tangan MacGyver bisa jadi bahan peledak yang membebaskan dirinya dari ancaman musuh-musuhnya dibanding buah itu ada di tangan kita.

Siapa tahu malah sesuatu benda atau alat atau apapun itu akan melampaui fungsi standarnya bila berada ditangan yang benar. Jadi yang namanya Facebook, sabook, cambook dan lain-lain itu ya menurut saya sih cuma alat, media, atau apalah istilahnya, kita sendiri yang bakal menentukan akan bermanfaat nggak buat diri kita atau bahkan orang lain mungkin.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah…penting atau nggak Facebook untuk MacGyver?

Sebuah pertanyaan nggak penting, tapi kalau MacGyver punya akun Facebook mungkin dia nggak akan punya waktu untuk menjalankan misi intelijen-nya karena mukanya udah terlanjur ketahuan, atau malah musuhnya di-add jadi teman. Tapi yang pasti MacGyver bisa mengumpulkan lagi fans-fansnya dulu yang punya kenangan banyak sama sepak terjang jagoan intelek ini, dimana lagi…..ya di Facebook.

(Oiya buat yang nggak tahu siapa MacGyver akibat terlalu muda, atau justru terlalu tua hehehe….MacGyver itu adalah karakter film seri yang diputar di RCTI waktu saya masih SD sekitar akhir tahun 80-an dan awal 90-an, bisa cek disini. Dan maaf ya apa nggak pada bingung di postingan ini kok banyak pertanyaannya ya…)

Jadi….kalau menurut kalian ?(pendapat diri pribadi dan ditujukan untuk diri sendiri)

Iklan




REUNI….

21 09 2008

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman semasa SD berkumpul bersama setelah sekian lama saya nggak pernah mendengar kabar mereka. Dimulai dari saling add di sebuah situs pertemanan dan saling bertukar nomor telepon (bukan nomor celana pastinya…),kamipun lalu memutuskan untuk saling bertemu…silaturahmi dengan judul buka puasa bersama, meskipun baru beberapa gelintir saja yang terlacak jejaknya dan bersedia datang.

Bayangkan…SD…sekolah dasar…sebuah masa yang sudah terlewat sekian lama. Entah sudah berapa kali renovasi yang dilakukan sekolah kami, berapa piala dunia FIFA sudah terlewati, berapa kali ganti presiden (kalo ini sih sering gantinya juga baru-baru ini aja…), dan sudah melalui berapa fase wajah Iwan Fals. Saya pun nggak menyangka sama sekali pertemuan ini akan terjadi begitu cepat, karena awalnya saya berpikir untuk menjaga hubungan saja, namun ketika salah seorang kawan mengusulkan untuk bertemu sambil buka puasa kamipun menyambut hangat. Dan disinilah kami duduk bersama kembali untuk pertama kalinya setelah hampir dua dasawarsa berlalu (ketahuan kan seberapa “tua”nya saya….)

wajah-wajah lama.....

wajah-wajah lama.....

yang ini nggak blur

yang ini nggak blur

Bertemu kembali dengan kawan lama yang hampir dua dasawarsa (sekitar 17 atau 18 tahun) nggak bertemu seperti masuk ke dalam lorong waktu…mengumpulkan kembali remah-remah kenangan masa lalu yang tercecer. Menatap kembali wajah-wajah yang sekian lama tersimpan di sudut ingatan yang paling jauh…..menceritakan kembali kenakalan, kegoblokan, kekonyolan, dan keceriaan masa kecil kami seperti sebuah kaleidoskop hidup yang diputar kembali di depan mata saya, bagaimana si ini dulu, …bagaimana si anu dulu…., pak guru ini, bu guru itu…….bapak si ini, ibu si anu…….kejadian ini, kejadian itu……..bagaimana saya dulu…

Ada yang seru,…manis,….sedih,…lucu,…..

Ada tawa,….ada tangis,…..ada canda,…..

Ternyata nggak banyak juga yang berubah dengan kawan-kawan saya…masih seperti dulu hanya saja dengan fisik yang melar sana sini (tarik atas…samping…depan…belakang…hahaha ya iya lah wong tambah gede), muka lama tapi dengan porsi badan yang lebih membuat dunia ini terasa sempit.

Saya membayangkan reuni ini seperti “membongkar” kembali sejarah hidup saya sendiri. Setiap melihat wajah-wajah mereka (teman-teman saya) disana saya melihat wajah saya. Setiap mendengar cerita mereka, ada cerita “sejarah” hidup saya juga disana. Membuat saya kembali melihat pernah menjadi manusia seperti apa saya, dan sudah menjadi manusia seperti apa saya sekarang, untuk pedoman akan menjadi manusia seperti apa saya nantinya.

Aduh…kok lama-lama jadi serius dan sentimentil begini ya…intinya pertemuan ini sangat menyenangkan sekali dan mudah-mudahan nggak berhenti sampai disini…

Ayo kawan-kawan…kita masih ketemu lagi kan? kita masih harus melacak jejak kawan yang lain, masih jauh perjalanan kita…

NB: Buat yang baca…coba kontak lagi kawan-kawan lamaaaaaa (maksudnya lama banget) kalian…menyenangkan sekali lho…

UDAH AH…….