IBSN: MERAYAKAN HIDUP

22 04 2009

Senin tanggal 20 April kemarin adalah hari dilahirkannya saya di dunia ini. Setelah menyetujui draft kontrak dalam kehidupan dan teken kontrak dengan Sang Pencipta, sayapun dibrojolkan 30 tahun yang lalu.

Biasanya sebuah perayaan akan dilakukan untuk memperingati atau sebagai penanda sebuah kejadian, termasuk kelahiran atau kita biasa sebut sebagai ulang tahun. Hari lahir kota Jakarta, hari kemerdekaan, hari ulang tahun pernikahan adalah beberapa contoh lainnya. Dan biasanya pula sebuah perayaan akan ditandai dengan acara pesta, baik yang skalanya besar-besaran sampai yang kecil-kecilan.

“Ayolah, setahun sekali ini…!” begitu kira-kira ungkapan yang sering keluar, sehingga paling tidak tiap orang merayakan sesuatu setahun sekali…yaitu ulang tahunnya. Sesuatu yang harus “ditandai” dan diberi makna (belum termasuk perayaan hari-hari besar nasional atau agama).

Saya sendiri bukan orang yang biasa merayakan sesuatu, apapun itu, apalagi dengan skala yang besar-besaran. Kalau skala kecil-kecilan yah…masih pernah kadang-kadang, itu juga kecil sekali. Dan yang masih sering muncul adalah pertanyaan, apa sih yang sebenarnya saya rayakan. Apakah saya merayakan lahirnya saya ke dunia? Apakah saya merayakan keberhasilan mencapai sebuah fase waktu tertentu dalam hidup saya? Apakah saya merayakan pencapaian saya selama hidup? Atau….atau…..merayakan hidup itu sendiri?

Yang pasti dalam ulang tahun saya tidak ada lilin yang ditiup, tidak ada acara potong kue, tidak perlu ada kata-kata sambutan. Yang saya sangat bersuka cita dan berterima kasih adalah ucapan-ucapan selamat yang ditujukan ke saya, mulai dari yang serius sampai ke yang konyol. Itu menjadi doa buat saya. Sebuah perayaan kecil dalam hati saja.

Hingga sehari setelah ulang tahun saya, ada sebuah sms masuk ke hp saya:

Sebuah sms yang di-forward oleh Bunda Lina tentang telah berpulangnya seorang blogger sahabat, adik, kakak, atau bahkan anak kita semua Sassie Kirana pada hari Senin 20 April dinihari, setelah bergelut sekian lama dengan penyakit yang dideritanya.

Saya pribadi tidak terlalu mengenal Sassie kecuali dari blog dan tulisan-tulisan di dalamnya, tapi kabar ini sempat membuat saya tercenung beberapa saat. Sementara di satu sisi saya sedang merayakan hidup, ternyata di sisi lain justru ada seseorang yang catatan perjalanan hidupnya sudah harus berakhir. Dia yang masih begitu muda. Seharusnya masih panjang perjalanan yang harus ditempuhnya. Masih banyak hal-hal yang harus dicapai dalam hidupnya.

Saya buka lagi blog http://sachzqirana.wordpress.com. Memberikan ucapan belasungkawa di tulisan terakhirnya. Saya membaca lagi beberapa tulisan Sassie yang terdahulu. Penuh ungkapan perasaan jiwa. Kebanyakan menampilkan keceriaan khas anak muda yang sarat energi. Meskipun sebagian ada pula yang menampilkan kondisi jiwa saat dia berada di titik terendah hidupnya, namun semua dihadirkan sekaligus bersama semangat untuk bangkit dan kebesaran hati untuk menerima dan menjalani hidup.

Saya salah. Usia tidak bisa dijadikan ukuran pencapaian hidup seseorang. Tidak bisa juga dijadikan patokan tingkat kedewasaan seseorang. Di usia yang masih begitu muda, pencapaian hidup dan tingkat kedewasaan Sassie mungkin lebih tinggi dari saya yang lebih tua.

Saya baru sadar, Sassie memberikan pelajaran berharga untuk saya, bahkan mungkin kita semua tentang bagaimana sesungguhnya merayakan hidup. Hidup tidaklah harus dirayakan dengan hingar bingar sehingga kadang kehilangan makna dan ke-puitis-annya. Hidup dirayakan dengan laku sunyi, ritual khusuk yaitu menjalani hidup itu sendiri dengan segenap daya, ketabahan hati, dan semangat.

Hidup juga tidak dirayakan setahun sekali, enam bulan sekali, atau sebulan sekali. Kita harus merayakan hidup setiap hari, setiap saat. Sejak kita mulai terjaga dan membuka mata dari tidur lelap kita. Dimulai dengan bersyukur bahwa kita masih bisa menikmati hidup, kemudian menjalaninya dengan kekuatan terbesar yang kita miliki. Dan yang pasti memberinya makna untuk kita sendiri atau mungkin orang lain. Sampai saatnya kita harus menyerah kepada takdir. Ah…menyerah mungkin bukan kata yang tepat. Menyerah berarti menghadapi takdir dengan kepala tertunduk, rasa kalah, dan penyesalan yang dalam. Mungkin lebih tepat “berdamai” dengan takdir. Jadi kita menghadapinya dengan kepala tegak, hati yang menerima dengan tulus, serta jabat tangan dan pelukan hangat.

lilin

Itulah yang saya lihat dari tulisan-tulisan Sassie. Setiap saat adalah perayaan akan hidup. Dengan menyalakan sebatang lilin dalam dirinya. Lilin itu tidak akan pernah ditiup atau habis, namun justru semakin terang nyalanya memancarkan daya hidup yang kuat. Memberikan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya, sampai masing-masing mampu menyalakan lilinnya sendiri. Menerangi masing-masing diri dan mungkin orang lain.

Dan cahaya itu tidak akan pernah padam…agar kita bisa belajar dan mengambil terangnya. Saya juga akan belajar dari itu.

Jadi teringat kata Maximus dalam film Gladiator: “What we do in life echoes in eternity…

Selamat Jalan sahabat…(maaf baru sebentar saya mengenalmu…)

Iklan