SI BUTA DARI GUA HANTU : PAHLAWAN KOMIK INDONESIA

17 11 2008

Pahlawan selain pahlawan yang kita temui sehari-hari ada juga pahlawan yang bisa kita temui di film, komik, atau novel. Pahlawan fiksi kali ya istilahnya. Salah satu pahlawan fiksi Indonesia yang sangat terkenal adalah Si Buta dari Gua Hantu yang pertama kali muncul dalam sebuah komik berjudul sama pada tahun 1967 dan kemudian muncul kembali dalam beberapa judul sampai akhir tahun 1980-an. Pada tahun 1969 film pertama yang dibuat berdasarkan cerita komik pertamnya diterbitkan dan mendapat sambutan luas. Aktor yang berperan sebagai Si Buta dari Gua Hantu adalah Om Ratno Timoer (halah…saya memang suka sok kenal gini manggil Om…). Oiya dulu di RCTI juga ada versi sinetronnya.

(Pasti banyak yang tahu dengan tokoh ini, ayo yang tahu ngacung…!!! ketahuan umurnya berapa kalo gitu hahaha…!!!)

Tokoh ini lahir dari ide dan goresan tangan Ganes TH, seorang seniman warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Tangerang. Sudah banyak karya komik (dulu istilahnya Cergam kependekan dari Cerita bergambar) yang dibuatnya antara lain jagoan betawi Si Djampang, tetralogi : Tjisadane, Krakatau, Tuan Tanah Kedawung, serta Nilam dan Kesumah. Kebanyakan diantaranya juga sudah difilmkan. Tapi memang yang paling fenomenal adalah Si Buta dari Gua Hantu.

Seri cergam Si Buta dari Gua Hantu awalnya mengisahkan tentang seorang pendekar bernama Barda Mandrawata yang membutakan matanya sendiri demi menguasai jurus si Mata Malaikat untuk membalaskan dendam karena Mata Malaikat telah membunuh ayah dan saudara-saudara seperguruannya. Mata Malaikat digambarkan sebagai pendekar kejam yang tak tega membunuh korbannya yang kadang adalah rakyat jelata. Setelah menuntaskan dendamnya (ternyata Mata Malaikat itu nggak jago-jago banget!), tiba-tiba Barda diserang oleh seorang pendekar misterius bernama Sapu Jagat. Akibat serangan itu Barda Mandrawata terjatuh ke dalam jurang dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah gua. Sewaktu sedang beristirahat, Barda dikejutkan oleh munculnya seekor ular raksasa yang menyerangnya. Setelah bertarung dengan sisa-sisa tenaganya ular tersebut akhirnya tewas di tangannya.

Yang lebih mengejutkan ternyata di dalam gua banyak pahatan di dinding yang menuliskan dan menggambarkan jurus-surus silat. Ternyata seorang pertapa sakti pernah tinggal di dalam sana dan meninggalkan pahatan ilmu silatnya untuk diwariskan. Barda pun lalu mempelajari dan melatih ilmu tersebut. Ia bertahan hidup dengan memakan daging ular yang dikeringkan, lalu kulitnya dijadikan pakaian (nah…ini yang kemudian jadi trade mark-nya, pendekar berbaju kulit ular).

Setelah mengausai ilmu tersebut, Barda Mandrawata pun berkelana untuk membasmi kebatilan dan kejahatan sebagai pendekar berjuluk Si Buta dari Gua Hantu.

Seri cergam si Buta dari Gua Hantu ini memperlihatkan wawasan nusantara dan nasionalisme Ganes TH yang begitu kental. Menceritakan perjalanan Barda Mandrawata ke berbagai pelosok nusantara dari Banten, Bali, Sulawesi, bahkan sampai ke Flores. Selain itu potret bangsa Indonesia yang tertindas oleh penjajahan Belanda (asing), sampai dengan orang-orang yang tega menindas bangsa sendiri demi kedudukan dan harta, sedikit banyak masih relevan dengan kondisi bangsa ini sekarang.

kalo ini saya yang buat (pasti orang bilang...pamer..pamer!!!)

kalo ini saya yang buat (pasti orang bilang...pamer..pamer!!!)

Saya sendiri sudah dari kecil tahu tentang cergam ini meskipun belum pernah baca. Masa kecil saya kebanyakan memang diisi komik eropa macam Tintin, Asterix, Lucky Luke, Steven Sterk, dll, paling kalo komik Indonesia ya Petruk-Garengnya Tatang S yang dijual di depan SD. Dan baru sekarang tahun 2000-an ini baca lagi beberapa judul yang diterbitkan ulang. Saya kagum dengan teknik permainan kontras gelap-terangnya Ganes TH. Bikin Si Buta dari Gua Hantu sebagai salah satu jagoan favorit saya.

Ada yang suka juga? Yahh…paling nggak buat orang-orang tua yang mau nostalgia masa kecilnya ketika cergam Indonesia dituduh merusak generasi muda…ini mungkin salah satu cergam yang citranya positif.

(kebanyakan informasi didapat dari cergamSi Buta dari Gua Hantu yang diterbitkan ulang oleh Pustaka Satria Sejati)

Daftar judul seri Si Buta dari Gua Hantu (siapa tahu ada yang mau nyari)*:

Si Buta dari Gua Hantu (1967)

Misteri di Borobudur (1967)

Banjir Darah di Pantai Sanur (1968)

Manusia Serigala dari Gunung Tambora (1969)

Prahara di Bukit Tandus (1969)

Badai Teluk Bone (1972)

Sorga yang Hilang (1974)

Prahara di Donggala (1975)

Perjalanan ke Neraka (1976)

Si Buta Kontra si Buta (1978)

Kabut Tinombala (1978)

Tragedi Larantuka (1979)

Pengantin Kelana (1981)

Misteri Air Mata Duyung (1984)

Neraka Perut Bumi (1986)

Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987)

Pamungkas Asmara (1987)

Iblis Pulau Rakata (1988)

Manusia Kelelawar dari Karang hantu (1988)

Mawar Berbisa (1989)

*sumber: cergam Si Buta dari Gua Hantu, diterbitkan kembali oleh Pustaka Satria Sejati, 2005

Kayaknya ada lagi seri Si Buta dari Gua Hantu, yang diterbitkan serial di majalah Ria Film tahun 70-an judulnya Asmara Darah, info lengkapnya liat disini.





PAHLAWAN OH…PAHLAWAN…!!!

11 11 2008

pahlawan

Meskipun sudah lewat, tapi kayaknya momen ini harus saya rayakan juga. Gegap gempitanya sih kalah sama berita eksekusi Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Ghufron, tapi masa sih kita nggak sedikitpun ngeh sama hari pahlawan…

10 November pagi, tepat hari pahlawan kemarin waktu saya terbangun, saya sempat berpikir. Apakah saya sudah berguna bagi orang lain, mendedikasikan semua yang saya mampu lakukan untuk kepentingan banyak orang….dan jawabnya BELUM!

Langsung saya berencana memakai kostum ketat saya, topeng penutup wajah, dan jubah untuk berpatroli di jalanan memberantas kejahatan apapun yang saya lihat dan membantu orang yang membutuhkan…tapi akhirnya rencana itu saya batalkan daripada saya kena pasal UU Pornografi dan Pornoaksi karena pakai baju ketat di jalanan, kan malah berabe…..

Akhirnya saya berpikir (Cuma bisa berpikir saja…)dari sekian banyak jenis pahlawan misalnya: pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan reformasi, pahlawan super, pahlawan bertopeng, pahlawan tak dikenal de el el…saya mau jadi pahlawan seperti apa ya?….Bingung….

Tapi yang pasti ada jenis-jenis pahlawan yang tidak akan saya tiru atau dijadikan idola, yaitu

Pahlawan Kesiangan, yaitu pahlawan yang datengnya telat misalnya hari gini baru mau menggalang dana untuk korban bencana letusan gunung Krakatau…..yaelahhhh…udah telat 125 tahun bung! Dipastikan korbannya sudah meninggal semua, bukan karena luka-luka kena lumpur panas, lahar atau ketiban batu….tapi karena TUA!

Pahlawan Ingin Dikenal, yaitu pahlawan yang setelah atau bahkan sebelum melakukan kebajikan langsung bikin pengumuman atau konferensi pers atau iklan….lagi banyak nih sekarang yang kayak gini hehehe…….(sebagai bentuk keprihatinan saya akan kondisi di sini

Pahlawan Maksa, yaitu pahlawan yang datang di saat yang nggak tepat dan sebenarnya tidak dibutuhkan misalnya liat nenek-nenek berdiri celingukan di pinggir jalan yang ramai, langsung dengan kecepatan kilat kita seberangin ke seberang jalan (kalo di seberanin ya ke seberang lah….), tiba-tiba si nenek bilang dengan nada pasrah…..”dik, saya tadi lagi nunggu angkot kok malah diseberangin…..???” lhaaaaa……

Saya jadi sadar untuk jadi pahlawan mungkin kita nggak harus punya kekuatan kaya orang-orang di film seri HEROES, atau pakai kostum ketat dan jubah gentayangan di atas gedung, atau harus berperang nembakin musuh sebanyak-banyaknya. Mungkin cuma sekedar jadi tempat sampah kalau teman kita curhat, atau membuat orang tua kita bahagia, atau sekedar memberi tempat duduk ke ibu-ibu hamil di kendaraan umum, atau sekedar memberi 1000 perak untuk seorang pengemis, dan atau sekedar-atau sekedar lainnya.

…..sekedar…..mungkin hanya “sekedar” artinya buat kita, tapi mungkin besar buat orang lain.

Dan mungkin jangan berniat sama sekali jadi pahlawan…saya kira para pahlawan sejati itu nggak ada sama sekali yang berniat jadi pahlawan atau terbersit di pikiran mereka biar dikenang sebagai pahlawan, tidak ada yang mengharapka akan mendapat medali bintang tanda jasa dan piagam penghargaan. Label pahlawan itu bukan kita sendiri yang menciptakan dan menempelkannya di diri kita. Jadi saya pikir kita cuma harus berbuat baik sajalah kepada orang lain dalam hidup…..dan apakah kita akan dikenang sebagai pahlawan? Nggak usah terlalu dipusingin saya kira…..

“SELAMAT HARI PAHLAWAN!”