IBSN: PENJAJAHAN DI JALANAN HARUS DIHAPUSKAN…!!!

11 08 2009

stop penjajahan di jalan

Suatu malam, saya ngumpul sama teman-teman. Sekedar ngobrol saja. Obrolan kali itu adalah tentang masalah di jalanan. Tentang masalah berlalu-lintas di kota Jakarta yang tercinta ini. Ceritanya salah satu teman saya yang pengendara mobil bercerita tentang pengalamannya berkendara hari ini.

“Motor itu ya…di jalanan sifatnya kaya udara aja ya. Mengisi ruang yang kosong. Sukanya nyelap-nyelip kaya upil, nggak bisa liat ruang kosong!”. Saya dapat satu kesimpulan menarik lagi. Berarti selain motor di jalanan, upil juga punya sifat seperti udara.

Dalam sesi obrolan malam yang ramai itu sebetulnya kalau diklasifikasi ada tiga kubu. Pertama, kubu pengendara mobil. Kita sebut saja ABIL (Anak moBIL)). Kedua adalah pengendara motor yang akan kita sebut kemudian dengan AMOT (Anak MOTor). Yang terakhir adalah yang sebagian besar sejarah naik kendaraannya adalah naik angkot, ojek, atau disopirin. Mereka ini masuk klasifikasi kelas pejalan kaki. Kita sebut saja Anak JALan (AJAL). Wuihhhh…AJAL! Ngeri betul namanya…..saya ganti saja deh jadi ALAN (Anak jaLAN). Saya termasuk yang terakhir ini.

“Kadang jarak antar mobil juga diisi, udah gitu posisinya melintang lagi. Gimana kalo nyerempet coba?!!”. Para ABIL melanjutkan.

ALAN yang kebetulan jumlahnya paling banyak ikut-ikutan berkomentar, “Itu sih belum apa-apa. Motor tuh juga suka banget naik-naik trotoar. Menjajah area pejalan kaki. Trotoar yang udah sempit gitu, harus berbagi sama pohon pula…eh, masih dijajah juga sama motor. “

“Iya tuh…malah suka-suka dianya yang marah. Pakai klakson-klakson segala bikin kaget aja. Gua pernah diteriakin sama pengendara motor yang naik trotoar…Mas, minggir dong udah diklaksonin juga. Lah…emang siapa yang salah jalan coba!”

AMOT yang merasa dipojokkan angkat bicara dengan agak emosi juga, “Iya..iya…emang banyak pengendara motor yang semena-mena. Tapi jangan digeneralisir dong…contohnya gue yang selalu mematuhi peraturan dan tata tertib di jalanan. Lagian mobil-mobil itu juga…mentang-mentang bodinya gede berasa yang punya jalanan. Nggak ngasih jalan buat motor. Bisa ngebut seenaknya, mentang-mentang kalo tabrakan lebih aman daripada motor.”

ABIL menjawab,”Ya..wajar dong. Lah…motor coba, udah lebih nggak aman masih aja ngebut-ngebut juga. Nyelip-nyelip. Lagian kalo mobil tabrakan motor, yang dihajar massa duluan pasti mobil. Kesannya yang naik motor pasti nggak bersalah!”

“Alaaah…AMOT sama ABIL tuh sama aja.” ,ALAN nimbrung juga. “Suka semena-mena. Kita pejalan kaki yang paling banyak jadi korban. Kalian itu semua penjajah, sukanya menjajah, mobil menjajah motor, motor menjajah mobil…motor dan mobil menjajah pejalan kaki. Coba itu di lampu merah, kalo berhenti pasti pada maju-maju sampai nutupin zebra cross. Gimana kita mau nyeberang?”, ALAN menambahkan.

“Pokoknya penjajahan yang kalian lakukan di jalanan harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan!”, teriak ALAN.

ABIL diam. AMOT diam.

“Eh ntar dulu, pejalan kaki jangan merasa paling suci dulu! Kalian itu kan juga suka menjajah. Itu yang suka nyeberang sembarangan padahal ada jembatan penyeberangan dan zebra cross apa namanya coba kalau bukan menjajah?  Itu yang suka naik turun angkot sembarangan apa juga bukan pejalan kaki?”, ABIL dan AMOT ngomong bersamaan.

ALAN diam. Semua diam.

“Ternyata kita semua masih suka saling menjajah ya?! Maunya merdeka, nggak suka dijajah…tapi masih suka menjajah pihak lain. Nggak boleh begini terus. Kita harus buat kesepakatan nih!”

Semua lalu berunding. Setelah selesai, semua pun membaca. Begini isinya:

PROKLAMASI JALANAN

Kami para pemakai jalan, dengan ini menyatakan kemerdekaan yang bertanggungjawab di jalanan. Akan saling berusaha untuk tidak menjajah atau merugikan pemakai jalan yang lain. Hal-hal mengenai pelaksanaan peraturan, akan dilaksanakan secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Atas nama pemakai jalan

ALAN/AMOT/ABIL

SEKIAN!


ibsn-redaksional

Iklan