BOLONG…

12 05 2009

es bolong

Suatu hari saya sama teman nongkrong di sebuah tempat makan dan minum yang biar sedikit gaya kemudian disebut dengan kafe. Nongkrong sembari ngomongin kerjaan. Setelah pesan makan dan minum kamipun duduk.

Nggak berapa lama pesanan pun datang. Haus setengah mati memaksa saya menyedot langsung minuman yang diantarkan. Lha kok…bukan haus yang hilang tapi napas saya habis. Gimana nggak coba…lha wong nyedot sampai pipi kempot kok cairan minum itu nggak sampai-sampai di mulut saya. Awalnya saya mengira itu adalah kerjaan penunggu tempat itu, yang nggak suka sama saya. Tapi ternyata setelah diselidiki, Alah makjan…!!! sedotannya sobek, meninggalkan lubang di sampingnya.

Saya langsung mendatangi waitress-nya…

“Mbak…”

“Iya mas, bisa dibantu?”

“Ini…sedotan saya bolong. Bisa minta gantinya nggak?”

“Ooo..bisa mas. Sebentar ya…” Si mbak berbalik dan menyerahkan sebilah (sebilah? Emang pedang?) sedotan yang masih dibungkus kertas. “Ini mas…”

Saya langsung bilang lagi, “Wah…sedotan yang ini juga bolong, mbak…”

“Hahh…masa sih mas? Dibuka aja belum!”, sambil mukanya kebingungan.

“Lha iya lah mbak…namanya juga sedotan, ya pasti bolong. Nih, coba liat ujung-ujungnya bolong kan? Kecuali namanya balok kayu, baru buntet.”

“Alah…si mas!”

Berhasil hehehe…! Ini upaya balas dendam yang sukses. Kenapa balas dendam? Soalnya saya dulu pernah gondok sama tukang jahit. Begini ceritanya:

Saya masuk ke tempat tukang jahit, mau ngejahitin celana yang bolong di daerah selangkangan (kata “selangkangan”  ini sopan nggak sih ditulis di sini? Bodo ahh…tulis aja!).

“Mau ngejahitin mas?”, tukang jahit itu bertanya.

“Iya, masa mau ngejahatin…kan nggak baik namanya, nanti saya ditangkap polisi kalo ngejahatin”

“Hehe…mau ngejahitin apa, mas? Saya nggak terima ngejahit luka tembak atau bacok ya…”

“Ini…celana saya bolong.”

“Lah…kalo bolongnya dijahit gimana makenya mas?”

“Hahh…maksudnya???” saya bingung.

“Lha iya…celana kalo nggak bolong gimana makenya?”

Semprul!

Mengenai bolong, bolong yang tidak semestinya memang bikin repot. Kalau bolong yang sudah hakikatnya lain lagi seperti halnya sedotan yang ujung-ujungnya harus bolong. Celana yang ujung-ujungnya juga harus bolong untuk meloloskan kaki kita. Coba bayangkan ya… kalo pas bangun tidur besok tiba-tiba hidung kita nggak ada lubangnya. Nggak bolong. Walah….gimana mau ngambil napas? Jadi mulut megap-megap….

Atau kalau misalnya saluran pengeluaran kotoran kita itu nggak berujung pada sebuah lubang atau bolongan yang kita kenal sebagai anus (kata “anus” ini sopan nggak sih ditulis di sini? Bodo ahh…tulis aja!), mau keluar lewat mana coba kotoran kita? Masa keluar lewat pori-pori? Jangan coba membayangkan gimana kalo eek….eh kotoran kita keluar lewat pori-pori.

Yang gawat, menyebalkan, dan mungkin bisa berbahaya adalah memang bolong yang nggak semestinya. Yang seharusnya nggak bolong….tapi bolong:

Gigi bolong….wuihhh nyut-nyutan sampe kepala!

Pertahanan bolong….wah hati-hati dijebol lawan!

Genteng bolong….siap-siap ruangan jadi kolam kalo pas hujan!

Kas perusahaan bolong….mungkin ada tikus kantor…tikus yang berdasi tapi!

Lapisan Ozon bolong…bumi makin panassss!!!

Apalagi kalau….PUNGGUNG YANG BOLONG. Hiiiiiiiiiii…!!!