ALI TOPAN ANAK JALANAN [TRILOGI ORANG MUDA VOL.1]

28 10 2009

Saya yakin semua tahu tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda. Dimana pada waktu itu, tahun 1928, para pemuda Indonesia mengukuhkan sebuah semangat yang terucap dalam sebuah sumpah untuk melebur sebagai bangsa yang satu, rela berkorban untuk tanah air yang satu, dan menjunjung bahasa yang satu….semuanya dengan satu kata di belakangnya, Indonesia.

Peran pemuda dalam perjalanan negeri ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. Kesadaran bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penjajahan muncul dari kaum muda, bahkan kemerdekaan kita juga dipelopori kaum muda. Indonesia sudah seharusnya berbangga kepada kaum mudanya.

Kita mungkin sudah banyak mengenal tokoh-tokoh muda yang menginspirasi bangsa ini misalnya Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantoro, Soekarno, Moh. Hatta, Soe Hok Gie dll. Di sini saya justru mau cerita tentang tokoh-tokoh muda yang lain, yang namanya nggak pernah masuk dalam buku sejarah Indonesia tapi masih dikenang, bahkan mungkin selalu hidup dalam perjalanan bangsa ini. Mereka adalah tokoh-tokoh muda yang lahir dari imajinasi sesuai dengan kondisi zaman pada sat itu, inilah salah satu dari mereka mereka:

Ali Topan Anak Jalanan


ali topan

di-scan dengan semena-mena dari cover novel terbitan vision, 2005. ilustrasi oleh komikus kebanggan indonesia, Jan Mintaraga

Ini dia karakter favorit saya, apalagi ceritanya sama-sama bersekolah di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Terkenal dengan julukan “Ali Topan Anak Jalanan” , Mewakili generasi anak muda 70an, Ali Topan digambarkan sebagai  anak yang berandalan, urakan, berantakan, tapi keren, cerdas dan punya prinsip. Idola kawula muda lah pokoknya. Sosoknya merupakan wujud pemberontakan terhadap tatanan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat saat itu, dimana orang yang berkedudukan dan punya kekuasaan dianggap selalu lebih baik, lebih benar dibandingkan orang dari kalangan bawah. Suatu masa dimana adanya sistem kelas terasa begitu kental di masyarakat. Suatu masa yang terlalu didominasi oleh generasi tua.  Generasi tua yang dianggap terlalu banyak mengekang dan mencekoki anak muda dengan doktrin tentang mana yang baik dan mana yang buruk, tapi tidak bisa memberi contoh yang semestinya.

Hal ini bisa dilihat dari kondisi keluarga Ali Topan sendiri yang sebetulnya termasuk keluarga berada, namun sayangnya berantakan. Ayah dan Ibunya terlalu sibuk sehingga tidak pernah mengurusi anak-anaknya. Yang paling parah, ayah dan ibunya saling berselingkuh satu sama lain, istilahnya ayahnya jadi Om Senang, ibunya jadi Tante Girang (istilahnya jadul sekali hehehe…). Kebobrokan moral kedua orang tuanya ini disaksikan sendiri oleh Ali Topan.Bahkan teman-temannya juga mengetahui hal ini. Satu-satunya tempat Ali Topan untuk mengadu dan memperoleh kasih sayang Ali Topan adalah Mbok Yem, pembantu setia keluarganya, yang justru lebih memperhatikan Ali Topan layaknya seorang ibu kepada anaknya.

Ali Topan yang merupakan produk broken home kemudian tumbuh menjadi remaja berandalan yang senang kebut-kebutan, namun dibalik itu dia punya prinsip yang kuat tentang mana yang baik, mana yang buruk. Selain itu juga otaknya cemerlang, sebab meskipun ditampilkan sebagai anak sekolah yang sering membolos namun nilai-nilainya merupakan yang terbaik di sekolah. Keberandalannya hanya merupakan wujud kejengahannya terhadap sistem nilai dan moral yang saat itu dianggapnya brengsek, baik itu sistem yang berlaku di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat.

Tokoh Ali Topan diciptakan oleh Teguh Esha seorang jurnalis, muncul pertama kali dalam cerita bersambung di majalah STOP pada tahun 1972. Kemudian difilmkan dengan pemeran utama Junaedi Salat dan Yati Octavia, dan pada tahun 1977 film tersebut dibuat dalam bentuk novel berjudul Ali Topan Anak Jalanan: Kesandung Cinta. Film dan novel ini selain menceritakan tentang persahabatan juga menceritakan kisah cinta Ali Topan dengan seorang gadis bernama Anna Karenina.  Kedua anak muda ini melakukan perlawanan karena kisah cintanya mendapat tentangan dari orang tua Anna Karenina. Sampai ada acara Ali Topan dan Anna Karenina kabur dari rumah….wah pokoknya endingnya dramatis banget deh…

Pada tahun 1978, muncul film kedua Ali Topan namun dengan pemeran yang berbeda. Film ini kemudian juga dibuat novel dengan judul Ali Topan Detektif Partikelir (Ali Topan Wartawan Jalanan) mengisahkan perjuangan Ali Topan untuk hidup mandiri di jalanan setelah pergi dari rumah karena tidak tahan melihat perilaku orang tuanya. Di sini bisa terlihat keberpihakan Ali Topan terhadap kalangan bawah dan orang-orang tertindas, apalagi sekarang dia harus bertahan hidup, menjadi bagian dari mereka. Hal ini menyebabkan pergaulan Ali Topan menjadi  luas mulai dari polisi, anak kuliahan, gelandangan, pengamen, sampai mantan penjahat.

Sayangnya kisah cintanya dengan Anna Karenina yang harus berakhir pahit. Kerasnya hidup dan cobaan yang dihadapi malah membukakan jalan untuk Ali Topan menemukan jalan hidupnya yang sejati. Juga cinta yang baru…

Tokoh Ali Topan ini saya prediksi cocok sekali untuk memegang jabatan sebagai Jaksa Agung, ketua Komnas HAM, atau ketua KPK.Kurang pas di jajaran eksekutif karena gayanya terlalu slengean dan kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, tapi bisa jadi oposisi yang baik (asal bicaranya juga ditata). Pokoknya yang membutuhkan kepedulian, determinasi tinggi, dan tindakan konkrit…Ali Topan bisa diandalkan.

Anak Jalanan

Vocal: Chrisye, Pencipta: Guruh Soekarno Putra

anak jalanan kumbang metropolitan
selalu dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian

tiada tempat untuk mengadu
tempat mencurahkan isi kalbu
cinta kasih dari ayah dan ibu
hanyalah peri yang palsu

anak perawan kembang metropolitan
selalu resah dalam penantian
anak perawan korban keadaan
selalu menanti dalam keresahan

tiada restu untuk bertemu
restu menjalin hidup bersatu
kasih sayang dari ayah dan bunda
hanyalah adab semata

anak gedongan lambang metropolitan
menuntut hidup alam kedamaian
anak gedongan korban kesibukan
hidup gelisah dalam keramaian

tiada waktu untuk bertemu
waktu berkasihan dan mengadu
karena orang tua metropolitan
hanyalah budak kesibukan ..


nantikan “trilogi orang muda vol.2″…

Iklan