INDONESIA’S SKETCHER

12 10 2009

Indonesia sketchers

Hari Sabtu tanggal 10 Oktober 2009 kemarin di kawasan kota tua tepatnya di depan Museum Fatahillah Jakarta (sekarang namanya Museum Sejarah Jakarta ya kalo nggak salah), sebuah komunitas baru bernama Indonesia’s Sketcher mengadakan kopi darat atau gathering-nya yang pertama.

Selanjutnya laporan akan dituliskan reporter kami Cincha Lawra yang kebetulan turut meliput jalannya acara.

Okay…

First of all….it was sooooo hot. Maksudku cuacyanya…panasss syekhali! Ya…meskipun agak sedikit cloudy, tapi ya hawanya tetap sajya panas. And there were a lot of people out there…ternyata you know what …….ada semacam photography contest sedang diadakan di kota tua. OMG…dan banyak jyuga akhirnya yang minta aku jyadi model photo mewreka. Mungkin karena aku chantique dan terlihat photogenic syekali ya…hihihihihi. Jyuga ada yang minta tanda tangan aku lhow, malahan ada yang minta cap jyempol dawrah jyuga ke aku…hihihihi. I was so damnnnnn…..famous!

Eeee…Cinca, reportase Indonesia’s Sketcher –nya mana?

Oiya…hihihihi, sorry aku lupa. Jyadi begini aku sampai di Fatahillah jyam 10 pagi. Kok nggak ada yang lagi gambar-gambar, katanya mewreka mau kumpul dekat meriam. Tapi kok sepertinya bewlum ada. Aku sempat mikir apa mewreka kumpulnya dekat meriam bellina ya…hihihihi. Aku jyuga sempat janjian sama beberapa teman illustrator, tapi ternyata mewreka sedikit telat.

Akhirnya setelah sekian lama, di antara owrang-owrang yang membawa camera, ada jyuga yang terlihat syedang menggambar. Dan betul sajya ternyata mewreka memang dari Indonesia’s Sketcher. Akhirnya yang datang pun semakin banyak. Dimulailah acyara mensketsa. Kita boleh mensketsa apa sajya. Aku juga ikutan sketching lhow….tahu nggak object favoritku………? Ya, AKU SENDIWRI…..I love sketching myself….hihihihihi!

Jadyi Indonesia Sketchers ini adalah sebuah komunitas yang digagas oleh syeorang cewek pemerhati sketsa bernama Mbak Atit , yang kemudiyan didukung oleh beberapa senior di bidang sketch seperti Mas Cedhar dan Mas Widi, de el el. Dan akhirnya menawrik minat beberapa teman lain. Awalnya dari sebuah group di Facebook, dan dilanjutkan dengan kopi darat…istilah English-nya apa ya? Land Coffee? Ya pokoknya sepewrti itulah.

Setelah acyara sketching, kegiatan dilanjutkan dengan berbincyang-bincyang seputar sketsa, ilustrasi, dan niat untuk membawa dan mengembangkan Indonesia’s Sketcher menjadi lebih serius lagi. Keberadaan sketsa masih kurang mendapat tempat di Indonesia, nah kawan-kawan yang gelisah ini kemudian berencana untuk membuat sketsa lebih dikenal lagi….mengembangkan dan mensosialisasikan sketsa  di Indonesia lah istilahnya. Kira-kira seperti itulah, lebih jelasnya sementara ini bisa lihat atau gabung ke groupnya di Facebook ( Hey…ternyata bahasa Indonesiaku semakin lancar ya…nggak percyuma memang aku belajar bahasa Indonesya di Australia). Sekian Cincha Lawrah melaporkan. Bye…cheriooooo…..!!!

Okay…demikian laporan dari reporter kami Cincha Lawrah. Sekian. Maaf kalau ada salah-salah kata.

bisa dilihat foto nya. ki-ka: saya, orido, evelline, mas chedar, pandu, wawan, rully, antown (antownholic), peby. (dok: atit)

bisa dilihat foto nya. ki-ka: saya (depan), orido (belakang), andhika, evelline, mas chedar, pandu, wawan, rully, antown (antownholic), peby. (dok: atit)

Iklan




BINGUNGNYA EBIET G. ADE

6 10 2009

berita kepada kawan

Akhir-akhir ini kita sering mendengar lagi lagu-lagu Ebiet G. Ade diputar di stasiun-stasiun televisi. Soalnya lagi-lagi negeri kita ini dilanda bencana yang dahsyat yaitu gempa di Sumatra Barat dan Jambi, serta sebelumnya di Tasikmalaya. Sebetulnya ini adalah kejadian alam biasa, dan nggak akan disebut bencana andaikata nggak menelan korban jiwa. Sayangnya justru itu yang terjadi. Indonesia kembali berduka.

Saya nggak akan bicara soal bencana ini. Sudah lengkap rasanya televisi dan koran membahasnya. Saya justru mau membahas tentang orang yang lagunya sering diputar itu, Ebiet G. Ade.

Bagaimana ya perasaan Ebiet G. Ade karena lagu-lagunya selalu diputar sebagai lagu tema setiap ada liputan bencana di televisi? Senang atau nggak senang? Atau nggak juga kedua-duanya? Apa yang Ebiet G. Ade pikirkan ya?

Kalau saja Ebiet G. Ade ada di sini bersama saya, atau malah saya yang justru sedang bersama Ebiet G. Ade (yang mana sebenarnya sama saja), pasti saya akan bertanya langsung kepadanya. Tapi karena Ebiet G. Ade tidak ada bersama saya, dan ternyata saya juga tidak bersama Ebiet G. Ade (yang mana sebenarnya juga sama saja), maka saya cuma bisa menjawab pertanyaan pertanyaan itu dengan “Teori Kemungkinan”.

Mungkin dia senang dan bangga karena lagunya banyak ditampilkan. Tapi mungkin juga sebagai manusia sedih luar biasa karena lagunya ditampilkan untuk mengiringi kesedihan. Meskipun mungkin nggak ada sanak saudara dekatnya yang jadi korban, tapi semua manusia kan pada hakikatnya bersaudara. Jangankan yang di Sumatra, Jawa, atau Papua…bahkan yang di Palestina, Taiwan, Somalia, Amerika, India, Timbuktu, kalau dihitung-hitung juga masih saudara, meskipun saudara jauh. Tapi kata-kata bijak di metromini kan bilang jauh dekat sama-sama Rp. 2000,-

Mungkin juga dia bingung dan bertanya-tanya, mengapa lagunya tidak seperti lagu H. Mutahar atau C. Simanjuntak yang sering dinyanyikan saat peringatan kemerdekaan. Atau mungkin seperti W.R. Supratman yang lagunya jadi lagu kebangsaan, dinyanyikan saat upacara, dan dikumandangkan saat Indonesia mendapat medali emas bulutangkis atau apalah. Atau mungkin seperti Bimbo, Opick, dan Haddad Alwi yang lagunya mengiringi bulan suci Ramadhan dan kegembiraan berlebaran. Atau bahkan mungkin seperti DJ-DJ itu (yang pasti bukan DJ Ablay atau DJ Ambret), yang bisa membuat dan nge-mix lagu serta sound untuk mengiringi para clubbers jogetan.

Mungkin dia berpikir kenapa dulu nggak membuat lagu tentang ulang tahun atau pernikahan, jadi ditampilkan di saat-saat yang membahagiakan saja. Atau bikin lagu tentang poligami seperti lagu Malaysia yang dinyanyikan oleh Ahmad Dhani. Atau mulai terpikir untuk bikin lagu cinta menye-menye seperti band-band yang banyak muncul dengan gaya yang sama semua belakangan ini.

Mungkin dia pergi ke laut dan sesampainya di sana, dia bertanya kepada karang, kepada ombak, kepada matahari. Meskipun mungkin semuanya diam, dan hanya tinggal dia sendiri terpaku menatap langit. Barangkali di sana ada jawabnya…

Atau mungkin Ebiet G. Ade itu termasuk narsis sehingga selalu berharap ada bencana, agar lagu-lagunya diputar, dan lonjak-lonjak kegirangan begitu lagunya diputar. Ah…kalau yang ini kayanya nggak mungkin. Saya yakin betul itu.

Dan yang pasti dengan lagunya saya jadi diingatkan, kalau manusia itu ibaratnya cuma debu di sol sepatu hansip, yang kalau mau dibersihkan ya hilang, atau hancur terinjak, atau nyasar terbenam di genangan air hujan atau lumpur becek. Ah, manusia…debu yang seringkali merasa seperti batu karang. Diingatkan untuk selalu ingat kembali kepada-Nya.

“Roda zaman menggilas kita terseret tertatih-tatih

Sumbu hidup terus diburu berpacu dengan waktu

Tak ada yang dapat menolong selain Yang Disana

Tak ada yang dapat membantu selain Yang Disana

Dialah..hah..hah….TUHAN

Dialah..hah..hah….TUHAN”

(mencoba bernyanyi dengan gaya Ebiet G. Ade)



Hari yang hujan di Oktober 2009, sambil ngopi





APAKAH PINTU MAAF MASIH TERBUKA?

23 09 2009

Saudara-saudari sekalian para blogador…baru kali ini saya sempat online setelah beberapa hari atau malah minggu tepatnya tidak terhubung dengan dunia maya.

Maka izinkanlah saya sekarang, melalui tulisan di blog sederhana ini memohon maaf lahir batin, semoga pintu maaf kalian masih terbuka bagi saya. maaf untuk semua kata atau ucapan yang tidak berkenan di hati, komentar-komentar yang belum terbalas, rumah-rumah kalian yang belum sempat saya kunjungi. 

Selamat Idul Fitri 1430 H

Mohon maaf lahir batin

yoso bayudono/geRrilyawan





SUARA DENGARKANLAH AKU….

28 08 2009

Memasuki satu minggu di bulan Ramadhan ini, saya sempat puasa ngeblog juga. Baru saat ini bisa posting. Blogwalking pun jarang. Jadi sekarang saya mau posting tentang puasa, yang mana sampai saat ini, yang namanya godaan masih saja ada dan akan selalu seliweran di depan mata. Mungkin semua juga merasakan bahwa hal-hal yang sebelum puasa kita anggap sepi…nggak menarik, mendadak sontak saat ini jadi begitu menggodanya.

Es ecek-ecek warna warni di pinggir jalan yang dulu sama sekali nggak dilirik, kok tiba-tiba jadi begitu indah warnanya di mata ini. Ancaman pewarna tekstil yang katanya dipakai untuk membuat es itu jadi seperti bukan masalah lagi. Es dung-dung keliling itu, yang nyaring santannya pakai celana dalam itu (lha iya lah…yang nyaring alias tukang saring santennya pakai celana dalam. Kalo nggak ya…dingin dong) juga kelihatan mak nyuss sekali. Waktu mbok-mbok jamu lewat  saja, kelihatannya bisa menggoda sekali. Husss…bukan mbok jamunya yang menggoda, tapi jamunya itu!

Di saat-saat seperti ini biasanya sering muncul suara-suara. Dua suara tepatnya. Nggak tahu asalnya dari mana. Satu suara A dan satunya suara B…

Eeee…lha kok hari ini muncul lagi. Begini ceritanya…suara A warna merah, suara B warna biru:

Lagi enak-enaknya browsing grafis-grafis menarik sambil mikir begini mikir begitu, di luar ada suara ting-ting-ting, tukang es lewat. Wah…ada juga tukang es yang lewat menjelang sore begini, saya mikir begitu. Tiba-tiba suara-suara itu muncul:

“Eh…enak tuh kayanya minuman yang dijual, segeeeerrr ya. Nggak kepingin?”, kata suara A.

“Husss…jangan mau!!! Eh…lu jangan suka ganggu-gangguin gitu dong. Mempengaruhi orang supaya batal ya?”, suara B memotong.

“Lho..lho..lho…kalo nggak kuat kan nggak apa-apa. Mana hawa panas begini kan? Apa ada gunung meletus ya?”

“Ealaaaaah…lha wong udah tua lho ya, masa nggak kuat? Masa kalah sama anak-anak ingusan itu to….berusaha dong, tahan sedikit! Es buah, es krim, es puter, es dung-dung itu nanti kan juga bisa dinikmati pada saatnya…”

“Eh…ya biarin! Terserah dia dong kalo emang pingin yang segerrr. Ngapain sih lu ikut-ikutan?!!! Atau tidur aja…biar bangun pas buka. Enak to? Mantep to? Gimana…?”

“Jangaaaaan….! Emang nggak kerja apa…mending kerja atau diisi hal yang berguna gitu lho! Belajar hal-hal baru gitu…enak to? Mantep to? Sibukkan diri…jadi nggak keganggu sama kutu kupret tukang godain orang ini!”


Sementara di pikiran saya berkecamuk banyak hal…wah ruwet pokoknya. Banyak fragmen-fragmen yang mesti saya satukan di kepala ini. Sementara suara-suara ini…

“Eh..siapa yang kutu kupret? Lu kali…!!! Lagian…tidur kan juga ibadah. Kalo tidur terus kan berarti ibadah terus namanya.”

“Enak ajaaa…emang nggak ada ibadah lain yang bisa dilakukan selain tidur. Kalo ngomong jangan asal lu ya…!!!”

“Lha ya ada, tapi kan…….”

“STOP…STOP…STOP!!! Cukup..cukup…cukup!!! Lu berdua …OUT!!! Atau diem…CEP!!! Kok malah pada berantem sih, ini kan bulan suci. Kalian nggak ada kerjaan lain selain berantem? Gua ini bukan barang rebutan ya…bukan arena pertarungan juga. Jadi silakan diam dan biarkan gua menikmati sucinya bulan ini. Terima kasih.”, saya terpaksa angkat bicara.

gimana-puasanya

Ya Allah…ampunilah hambamu ini yang masih mudah tergoda. Ampunilah juga mereka berdua yang berkelahi terus dari tadi. Berilah hamba kekuatan menjalankan ibadah di bulan suci ini…dengan ketulusan hati, LILLAHI TA’ALA. Amin.

La haula wala kuwata illa billah

Bagaimana sodara sodari blogador, puasa kalian lancar?  Ya sudah…saya mau sholat ashar dulu.





INDONESIA…SELAMAT YA!

18 08 2009
bendera

gambar ini aku lupa ambil dari mana

Indonesia…

Dirgahayu ya…Selamat Hari Jadi yang ke-64.

Ternyata kamu semakin tua ya…dan semakin matang tentunya? Memang begitu seharusnya.

Indonesia…

Semakin tua, kamu semakin botak.

Rambutmu banyak yang rontok, hutanmu dicukur habis. Apa kamu ikut-ikutan catok? (Nggak usah catok-catok nanti kamu gundul kata mama di iklan sampo).

Kenapa? Kepanasan ya? Bukannya dengan begitu malah jadi makin panas?

Indonesia…

Kemarin aku lihat pesta rakyat besar-besaran…Kenduri Nasional. Pakai pemecahan rekor segala.

Senang ya, hari jadimu dirayakan dengan gegap gempita. Jadi lupa sejenak dengan kekacauan yang sempat melanda.

Lebih baik sekalian ikut Kenduri Narablog 2009-nya Guskar. Mau?

Indonesia…

Waktu peringatan detik-detik proklamasi kemarin, mataku sempat berkaca-kaca.

Ingat waktu perjuangan dulu (maksudnya, ingat tentang cerita zaman perjuangan dulu, aku kan tidak mengalaminya).

Ingat darah-darah yang tumpah dalam perjuangan kemerdekaan, ingat jasad-jasad yang terkubur di bawah nisan tanpa nama.

Sekarang juga banyak darah yang tertumpah, sayangnya untuk alasan yang konyol dan tak jelas. Kalau kamu mau tahu, sekarang kekerasan sudah jadi Tuhan. Makanya lihat tuh…setan-setan tertawa di balik layar, merayakan gemilangnya “pementasan” mereka.

Indonesia…

Katanya kamu kaya ya? katanya siapa?

Aku lihat masih ada yang makan sisa remah-remah makan malam kemarin.

Banyak tangan masih harus merogoh kantong lebih dalam, meskipun kadang tak ditemukan apapun juga di sana.

Eh….tapi ternyata betul kok kamu kaya. Barusan aku baru lihat Lamborghini kuning meluncur lewat.

Indonesia…

Kamu masih cantik…percayalah. Banyak orang tertarik padamu.

Coba itu lihat…Orang-orang asing itu, sepertinya mereka tertarik padamu ya. Sampai-sampai tangan mereka tak henti-hentinya menjamahmu.

Tapi kenapa kamu diam saja? Yang mereka mau itu cuma tubuhmu.

Ah, tapi ternyata aku salah, tak semuanya mereka begitu. Malah ada yang terlihat begitu tulus mencintaimu. Bahkan mungkin lebih daripada aku.

Lho kenapa kamu menangis? Ini kan hari bahagiamu?

Jangan menangis Indonesia. Jangan pula kamu umbar tangisanmu itu di Youtube.

Aku tahu kamu sedih. Kami semua tahu.

Yang bisa aku bilang cuma berhentilah menangis, kuatkan dirimu…masih banyak orang-orang yang mencintaimu dengan tulus. Yang cintanya begitu menggelora dalam merahnya darah mereka, dan terpahat begitu dalam di putihnya tulang mereka.

Masih banyak. Meskipun mungkin aku belum.

Tapi aku akan berusaha…

NB: Maaf ya Indonesia…ucapanku telat. Tapi kan kemarin aku sudah kirim SMS. Nomormu 081719451000 kan? Lho…bukan? Lalu nomor siapa itu?





IBSN: PENJAJAHAN DI JALANAN HARUS DIHAPUSKAN…!!!

11 08 2009

stop penjajahan di jalan

Suatu malam, saya ngumpul sama teman-teman. Sekedar ngobrol saja. Obrolan kali itu adalah tentang masalah di jalanan. Tentang masalah berlalu-lintas di kota Jakarta yang tercinta ini. Ceritanya salah satu teman saya yang pengendara mobil bercerita tentang pengalamannya berkendara hari ini.

“Motor itu ya…di jalanan sifatnya kaya udara aja ya. Mengisi ruang yang kosong. Sukanya nyelap-nyelip kaya upil, nggak bisa liat ruang kosong!”. Saya dapat satu kesimpulan menarik lagi. Berarti selain motor di jalanan, upil juga punya sifat seperti udara.

Dalam sesi obrolan malam yang ramai itu sebetulnya kalau diklasifikasi ada tiga kubu. Pertama, kubu pengendara mobil. Kita sebut saja ABIL (Anak moBIL)). Kedua adalah pengendara motor yang akan kita sebut kemudian dengan AMOT (Anak MOTor). Yang terakhir adalah yang sebagian besar sejarah naik kendaraannya adalah naik angkot, ojek, atau disopirin. Mereka ini masuk klasifikasi kelas pejalan kaki. Kita sebut saja Anak JALan (AJAL). Wuihhhh…AJAL! Ngeri betul namanya…..saya ganti saja deh jadi ALAN (Anak jaLAN). Saya termasuk yang terakhir ini.

“Kadang jarak antar mobil juga diisi, udah gitu posisinya melintang lagi. Gimana kalo nyerempet coba?!!”. Para ABIL melanjutkan.

ALAN yang kebetulan jumlahnya paling banyak ikut-ikutan berkomentar, “Itu sih belum apa-apa. Motor tuh juga suka banget naik-naik trotoar. Menjajah area pejalan kaki. Trotoar yang udah sempit gitu, harus berbagi sama pohon pula…eh, masih dijajah juga sama motor. “

“Iya tuh…malah suka-suka dianya yang marah. Pakai klakson-klakson segala bikin kaget aja. Gua pernah diteriakin sama pengendara motor yang naik trotoar…Mas, minggir dong udah diklaksonin juga. Lah…emang siapa yang salah jalan coba!”

AMOT yang merasa dipojokkan angkat bicara dengan agak emosi juga, “Iya..iya…emang banyak pengendara motor yang semena-mena. Tapi jangan digeneralisir dong…contohnya gue yang selalu mematuhi peraturan dan tata tertib di jalanan. Lagian mobil-mobil itu juga…mentang-mentang bodinya gede berasa yang punya jalanan. Nggak ngasih jalan buat motor. Bisa ngebut seenaknya, mentang-mentang kalo tabrakan lebih aman daripada motor.”

ABIL menjawab,”Ya..wajar dong. Lah…motor coba, udah lebih nggak aman masih aja ngebut-ngebut juga. Nyelip-nyelip. Lagian kalo mobil tabrakan motor, yang dihajar massa duluan pasti mobil. Kesannya yang naik motor pasti nggak bersalah!”

“Alaaah…AMOT sama ABIL tuh sama aja.” ,ALAN nimbrung juga. “Suka semena-mena. Kita pejalan kaki yang paling banyak jadi korban. Kalian itu semua penjajah, sukanya menjajah, mobil menjajah motor, motor menjajah mobil…motor dan mobil menjajah pejalan kaki. Coba itu di lampu merah, kalo berhenti pasti pada maju-maju sampai nutupin zebra cross. Gimana kita mau nyeberang?”, ALAN menambahkan.

“Pokoknya penjajahan yang kalian lakukan di jalanan harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan!”, teriak ALAN.

ABIL diam. AMOT diam.

“Eh ntar dulu, pejalan kaki jangan merasa paling suci dulu! Kalian itu kan juga suka menjajah. Itu yang suka nyeberang sembarangan padahal ada jembatan penyeberangan dan zebra cross apa namanya coba kalau bukan menjajah?  Itu yang suka naik turun angkot sembarangan apa juga bukan pejalan kaki?”, ABIL dan AMOT ngomong bersamaan.

ALAN diam. Semua diam.

“Ternyata kita semua masih suka saling menjajah ya?! Maunya merdeka, nggak suka dijajah…tapi masih suka menjajah pihak lain. Nggak boleh begini terus. Kita harus buat kesepakatan nih!”

Semua lalu berunding. Setelah selesai, semua pun membaca. Begini isinya:

PROKLAMASI JALANAN

Kami para pemakai jalan, dengan ini menyatakan kemerdekaan yang bertanggungjawab di jalanan. Akan saling berusaha untuk tidak menjajah atau merugikan pemakai jalan yang lain. Hal-hal mengenai pelaksanaan peraturan, akan dilaksanakan secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Atas nama pemakai jalan

ALAN/AMOT/ABIL

SEKIAN!


ibsn-redaksional





CREATIVE THEME DAY #3: STOP VIOLENCE START CREATIVITY

1 08 2009

indonesia kreatif

..

CREATIVE THEME DAY #3

creative theme day

creative theme day