Wahai…wanita Indonesia!

16 08 2008

Babak I

Seorang gadis bernama Ayu (bukan nama sebenarnya) sedang ngobrol dengan ibunya yaitu Mama Ayu (bukan nama sebenarnya, tapi nama panggilan tetangga. Mama Ayu….Mama Ayu!)

“Ayu sini deh. Mama mau nunjukin ini ke kamu. Ada produk krim kecantikan baru. Yang satu bisa ngilangin kerutan di wajah dalam 7 hari…trus yang satu lagi bisa bikin kulit lebih putih juga dalam 7 hari.” Mama ayu berkata.

“Ya oloh…Ma! Jadi kemarin mama nyuruh aku pulang cuma mau nunjukin ini doang! Aku kan masih ada tugas yang harus diselesin di kos!”

“Eeee…ini penting lho! Kulit kamu kan rada item tuh….coba pake ini deh supaya lebih putih gitchuuu….”

“ Idiih…Mam…ngomongnya kok kaya abege gitu sih? Lagian aku kan gak item tapi tan. Tan….ma. Kebakar matahari. Orang bule aja pada pengen kaya gini.”

“Kamu itu gimana sih….itu coba liat di tipi, iklan iklan pemutih itu, model model ceweknya itu lho pada putih putih, mulus mulus kulitnya. Pokoknya cuantikk dan bening bening tenan hee….kamu emangnya nggak mau kaya gitu?”

“Ya ngapain Mam…kulit orang kita tuh emang gini. Langsat. Sawo mateng. Lagian itu iklan kan kebanyakan modelnya bukan orang kita. Katanya orang Thailand dan ada turunan bulenya juga, jadi bukan orang sono tulen juga. Malah katanya ada yang bukan cewek tulen pula……hiiiiiii!”

“ Alah sok tau kamu…pokoknya ini kamu pake krim pemutihnya. Mama mau pake krim anti keriputnya biar keliatan muda. Nanti 7 hari lagi kita liat hasilnya.”

Kalau saya lihat dari percakapan di atas dan kondisi sekitar, cantik dan menarik dengan standar standar kulit putih kencang, bodi langsing singset, tinggi semampai, jadi patokan ukuran kecantikan dan kemenarikan seorang wanita di era globalisasi ini.

Tapi apa untuk terlihat cantik dan menarik harus begitu standarnya? Kalo nggak bisa gimana? Kasihan dong orang keling, orang gemuk, atau nenek nenek.

Saya sering kasihan kalo liat para wanita yang melakukan segala cara supaya keliatan cantik dan menarik. Pake krim pemutih kulit supaya putih padahal dari lahir juga udah dasarnya item, diet ketat biar bodi jadi kayak gitar (lagian apa bagusnya sih ya bodi gitar?), sedot sana sini biar kurus, suntik sana sini biar WOW!, ada juga yang coba ngelawan hukum alam melawan penuaan bahkan pake operasi plastik segala.

Waduh…itu sih saya piker udah kelewatan. Ingin cantik sebenarnya nggak masalah selama jangan terlalu maksa dan cenderung nggak logis.

Saya punya tips untuk para wanita terutama wanita Indonesia untuk lebh percaya diri. Ini bukan sok menggurui…tapi memang menggurui.

TIPS

  • Rekam suara anda yang bilang “Saya cantik”. Putar berulang ulang dan dengarkan terus menerus niscaya lama kelamaan anda akan dengan sendirinya berpikir bahwa anda cantik (Catatan: jangan sekali sekali kaum pria melakukan ini! Kalau tidak ingin jadi “melambai” nantinya. Ya kalo bapak bapak ngedengerin rekaman “saya cantik” dan nantinya merasa cantik beneran kan bahaya)
  • Liat selebriti selebriti dari luar negeri misal Halle Berry, Beyonce, atau Alicia Keys mereka aslinya pada keling semua tapi pede abis.
  • Satu lagi menurut perkataan seorang bijak yang tidak lain adalah saya sendiri, anda harus selalu menganggap kekurangan anda sebagai kelebihan. Misalnya kalau anda kurang cantik anggaplah bahwa anda lebih jelek dari orang lain. Kalau anda kurang pandai anggaplah anda lebih bodoh dari orang lain. Kalau anda kurang berduit anggap saja anda lebih miskin dari orang lain, dan kalau anda kurang waras anggaplah anda lebih gila dari orang lain.

Jadi wanita Indonesia…kalian cantik cantik kok. Nggak perlu jadi bule dan nyaingin bidadari pesona kahyangan. Jadi diri sendiri aja lah….kalo nggak percaya tanya sama Dian Sastro.

Udah ah…..

Oiya ini lanjutan cerita yang tadi….

BABAK II

7 hari telah berlalu. Mama Ayu menelpon lagi si Ayu. “Yu, gimana hasil krim pemutihnya ?”

“Nggak aku pake Ma…aku nggak mau jadi bahan percobaan, jadi waktu itu aku olesin ke areng aja. Ampe sekarang nggak putih juga tuh….”

“Alah…anak dodol kamu itu. Emang susyah deh…eh tapi mama membuktikannya lho, dan hasilnya kayanya mama ngerasa lebih muda deh sekarang. Eh…nanti kamu kesini kan?

“Iya…iya…”

Beberapa jam kemudian….

“Ma…Ma…..!”

“Tunggu sebentar ….mama masih di kamar!”

Tiba tiba pintu kamar terbuka.

“TAARRAAAAA…..Surprise!!! Gimana penampilan mama sekarang?

Ayu melongo melihat mamanya berputar putar pake gaun Cinderella open shoulder yang dibuat dari gorden bekas jendela ruang tamu.

“Ma…ternyata memang bener khasiatnya! Mama keliatan lebih muda!”

“Tuh kan apa mama bilang, Cuma dalam 7 hari lho….kamu nggak percayaan sih!”

“Iya …mama keliatan lebih muda 7 hari. Mama keliatan sama persis kaya 7 hari yang lalu…..”

“lho…???”

NB: Saya membutuhkan obat ganteng yang mujarab bukannya saya nggak pede sama muka saya sekarang…cuma bosen aja.





AYO PERGI HIJAU….!

1 08 2008

AYO PERGI HIJAU…

Sepertinya akhir-akhir ini warna hijau jadi warna favorit atau warna trend. Jargon “Ayo Pergi Hijau” (maksudnya “Let’s Go Green”) muncul dimana-mana mulai dari majalah, koran, TV, radio, film, lagu semenjak mulai munculnya kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup.

Tapi apa benar kita (manusia-manusia gila ini) udah sadar?

Topik soal lingkungan hidup ini kayanya mulai memanas waktu Al Gore (mantan wapres Amrik) menelurkan (rupanya Al Gore ini sejenis unggas) sebuah film dokumenter yang berjudul “an Inconvinient Truth” yang isinya tuh sebuah pemaparan tentang bahaya yang sedang dihadapi bumi ini mulai dari kerusakan lingkungan yang disebabkan gas sisa pembakaran atau proses industri yang tertahan di atmosfer sehingga menyebabkan suhu bumi semakin panas (global warming), semakin berkurangnya sumber daya energi terutama yang berasal dari fosil, perubahan iklim dan cuaca yang nggak terduga, dan akibatnya terhadap bumi dan kelangsungan hidup manusia….wah pokoknya isinya semi horor, kalo ditambahin pocong sama kuntilanak dijamin bakal bikin jantung copot cuman jadinya rada gak nyambung aja.

Film ini lumayan laku juga dan dapet pujian dari kritikus…bahkan bikin beberapa orang atau kalangan mulai tergerak untuk lebih peduli sama kelangsungan bumi kita ini, dan perlahan isu ini jadi lumayan sering didengungkan apalagi film “an Inconvinient Truth” sempat nyabet piala Oscar dan Om Al Gore juga dapet hadiah Nobel Perdamaian. Mendadak film ini jadi sebuah film yang wajib tonton setidaknya kalo menurut Roeper & Ebert (itu…yang komentarnya selalu ada di cover film kayak: “…a must see”, “brilliant!”, atau,”*****” alias bintang lima).

Nah…selain film, isu ini jadi mewabah, termasuk di Indonesia ini nih…isu kepedulian lingkungan mulai didengungkan secara luas…orang udah banyak yang bisa cas cis cus ngomong soal apa itu global warming, beberapa toko atau departement store mengurangi penggunaan tas plastik dengan menwarkan konsumennya untuk memakai tas non plastik yang sama tiap kali belanja di situ, remaja-remaja ABG pakai t-shirts atau tas yang ada tulisannya Let’s Go Green, sampe selebriti selebriti kita didaulat jadi duta lingkungan hidup oleh beberapa lembaga. Ahmad Dhani jadi duta lingkungan hidup, Marshanda jadi duta lingkungan hidup, Bunga Citra Lestari jadi duta lingkungan hidup, Duta Sheila on 7 jadi Duta……Sheila on 7 lah.

Pokoknya masalah lingkungan hidup lagi jadi ngetren banget….

Nah ini masalahnya…..

Gimana kalo ini cuma sekedar tren aja…..?

Apa kita udah bener-bener sadar atau cuma sekedar ikut arus aja?

Besok temen temen saya berencana menanam pohon bakau di kawasan pantai utara Jakarta. Saya sih nggak ikut menanam cuma ikut nyumbang aja.Yang saya takut adalah pertanyaan pertanyaan yang mendadak sontak , apakah saya menyumbang karena saya benar-benar peduli? atau saya menyumbang hanya karena berpikir mumpung isunya sekarang lagi hangat dan seru? Apa saya cuma ikut ikutan saja? Kalau benar benar peduli, kenapa nggak dari dulu saya lakukan? lalu kenapa saya nggak menanam sendiri saja? mengapa begini? mengapa begitu?

AAAAARRRRRGGHHH………..!!!!!

*image hulk diambil dari The Incredible Hulk (Universal Pictures & Marvel Comics character)