ANGIN MAK WUZZZ…DI HALTE BUSWAY

5 03 2009

busway-halte-fin1

Salam untuk para bloGador…

Kali ini saya mau bercerita soal Bus TransJakarta yang lebih dikenal dengan sebutan populer namun sebenarnya salah kaprah yaitu Busway (selanjutnya kita akan membahasakannya sebagai Busway saja).

Tanggal 21 Februari kemarin koridor VIII yang melayani jalur Lebak Bulus – Harmoni mulai beroperasi. Saya nggak tahu sudah sejauh mana keberhasilan rute baru ini, apalagi dengar-dengar termasuk rute terpanjang dan macetnya naujubilah plus jalan yang belum memakai separator jadi bergabung dengan jalur kendaraan lain.

Saya teringat waktu Busway mulai beroperasi sekitar 5 tahun yang lalu tepatnya tanggal 15 Januari 2004. Antusiasme masyarakat Jakarta sangat besar sekali wong sampai antri berular untuk naik yang namanya Busway ini. Termasuk saya. Saya menaruh harapan besar sekali terhadap lahirnya moda transportasi rakyat yang lebih beradab macam ini, berucap terima kasih juga kepada Bang Yos sebagai gubernur yang jadi dukun beranaknya. Sampai-sampai saya berpikir untuk menjual mobil saya dan beralih ke Busway. Paling tidak saya turut serta dalam mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang mondar-mandir di jalanan Jakarta, apalagi transportasi umumnya sudah canggih dan nyaman. Tapi akhirnya baru ingat kalau saya nggak punya mobil…jadi ya memang tetap harus memakai transportasi umum itu. Sayapun membatalkan niat untuk menjual mobil, masa saya harus menjual mobil Pak Badrun tetangga saya.

Pertama kali mencoba mencicipi naik Busway, saya naik dari halte Masjid Agung Al-Azhar yang termasuk daerah pelayanan koridor I Blok M – Kota. Saya nggak punya tujuan, pokoknya jalan saja dan ikut saja kemana Busway ini akan mengantar asal jangan ke kuburan atau kantor polisi. Setelah membeli tiket saya masuk ke halte dan kebetulan sedang ada Busway yang berhenti. Saya mengejar supaya masih bisa naik supaya nggak perlu menunggu lagi, begitu juga dua orang yang baru datang di belakang saya. Tapi ternyata penumpang sudah memenuhi kuota (kuota penumpang di halte itu saja barangkali) jadi saya di-stop oleh penjaga pintunya dan dia berkata “silakan naik bus yang di belakang mas.” Dan saya menjawab, “baiklah kalau begitu ki sanak.”

Saya pun nggak jadi naik, dan harus menunggu bersama dua orang lain di belakang saya. Busway tadi pun bergerak pergi dan saya masih berdiri di bibir halte ketika tak berapa lama terdengar bunyi JDAAAAKKKK!!! Bertemulah mulut monyong bin ndeso saya dengan keajaiban teknologi bernama PINTU OTOMATIS. Pintu otomatis ini digerakkan sensor yang bila ada bus datang, pintu ini akan terbuka, dan akan tetap terbuka kalau bus-nya masih ngendon di situ. Ketika bus pergi dengan sendirinya pintu akan menutup sendiri. Untungnya…nah orang Indonesia sekali saya ini kan, selalu untung, pintu otomatisnya menggunakan sistem geser. Coba kalau pintu otomatisnya pakai sistem tabok seperti pintu koboy yang nabok bolak balik saya pasti udah terpental sejauh 300m ke Masjid agung Al-Azhar dan bisa-bisa langsung disholati disana.

Wuahhh…hebat negara kita, halte bus-nya saja punya pintu yang bisa buka tutup sendiri nggak kalah sama gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel-hotel berbintang.Kalau bahasa Jawa ing atase cuma halte saja pintunya otomatis. Kalau di hotel, gedung kantor, atau mal kan yang datang rapi-rapi, kinclong, ayu, dandy, dan wangi. Lha kalau di halte ini kan ya ada juga yang model begitu tapi yang lecek en dekumel kaya saya ya banyak juga. Wah…benar-benar pemerataan nih. Bangga saya jadi bangsa Indonesia. Saya jadi bermimpi kalau punya rumah juga bakal punya pintu pagar yang bisa buka tutup sendiri, tanpa saya harus membukanya. Tinggal teriak “BUKA PINTU!” , maka pintu akan otomatis terbuka dengan tenaga penggerak bernama Mas Jamal diiringi seruannya “SIAAAP NDOROOOO!”, halah feodal banget…!

Tapi ya…beberapa bulan eh nggak ding beberapa tahun belakangan ini kok keajaiban teknologi itu nggak kelihatan kerjanya lagi ya. Halte Busway (di banyak tempat)sekarang pintunya udah nggak buka tutup lagi tapi bukaaaaaaa terus, ngablak kaya toko obralan. Dan setiap berdiri di pintu itu anginnya ternyata kenceng banget MAK WUZZZZZ..!!! apalagi kalau ada Busway yang lewat tanpa berhenti nggak mengambil penumpang karena diprioritaskan untuk halte berikut yang penumpangnya mbludak tambah MAK WUUUZZZ…!!!!! Ternyata oh ternyata memang pintu itu bisa disetel buka tutupnya. Tapi kenapa dibiarin ngablak ya?

Kenapa coba? Ada yang tahu? Coba itu yang duduk di belakang ndengerin apa nggak?

Begini ternyata… nyataaaater…. taaaaternya….(kok malah kaya Srimulat!) selidik punya selidik pintu otomatis nggak bisa mengalahkan kebiasaan orang ngantri nunggu bis yaitu sebisa mungkin kepinginnya paling depan sampai di bibir halte, apalagi saat jam ramai pergi kantor atau pulang kantor. Meskipun pintu menutup otomatis dan orang-orang itu kejepit pintu, ya cuek aja itu. Semua orang kaya jadi Superman dan membuktikan “Nih, gue nggak apa-apa kejepit pintu. Baru kejepit pintu otomatis, kejepit kontainer juga gua jabanin!” Pintu itu tetap nggak bisa menutup sempurna karena terhalang orang yang ngantri dan selalu kepingin se-depan mungkin. Karena pintunya merasa nggak dianggap dan bosan karena nggak bisa menutup terus, mungkin si pintu mengalah dan minta supaya petugas halte membiarkan dirinya terbuka saja.

Ya…alhasil seperti ini beberapa waktu lalu saya yang kunjung belum punya mobil ini kembali berdiri di halte Busway di Setiabudi yang sekarang sudah pintunya terbuka ngablak. Di samping saya ada seorang gadis manis yang kalau dari wajahnya sepertinya bernama Rika Diana. Kelihatan repot banget dengan setelan kerja blazer dan rok selututnya. Bukan blazer dan rok selututnya yang bikin repot tapi tangan kiri memeluk berkas-berkas yang tebalnya sebanyak kertas-kertas ulangan SMU selama tiga tahun ajaran dan tangan kanannya memegang tas jinjing yang lumayan besar berlogo salah satu pusat perbelanjaan (ini ngantor apa shopping?).

Nah sialnya karena begitu terbukanya halte itu, angin MAK WUZZZZ…!!! pun nyelonong. Gadis tadi sempoyongan kena angin. Tangan kirinya semakin erat memeluk berkas-berkasnya, tangan kanannya yang memegang tas jinjing berusaha setengah mati melindungi rambutnya yang tertata rapi dan rok-nya yang berkibar-kibar sehingga setelah angin itu lewat tampilannya jadi naujubilah berantakan.

Dengan tangan yang memegang tas gadis itu merapikan rambutnya (kenapa nggak ditaro sih tasnya?). Ternyata cobaan belum berakhir. Satu armada Busway lewat dengan kencangnya tanpa berhenti mengambil penumpang, lagi-lagi angin MAK WUZZZ…!!! melabraknya. Badan gadis itu sempoyongan lagi, dandanannya kembali berantakan. Masih untung berkas-berkasnya nggak berhamburan kemana-mana. Setelah merapikan kembali rambutnya, dia menghela nafas. Terpaan angin berikutnya tidak akan menjatuhkannya. Dia siap sedia menghadang tiupan angin yang bisa datang setiap saat. Berkas-berkas kantornya dipeluk lebih erat, dua lututnya menjepit rok, dan tangan kanannya memegang tas jinjing sekaligus berpegangan pada handrail yang terpasang di halte itu (buat yang nggak tahu: handrail itu pegangan tangan sekaligus pembatas yang terbuat dari besi atau stainless untuk membatasi orang di supaya nggak kena pentok sama pintu otomatis yang terbuka sendiri dan supaya orang nggak nyender di dinding halte mungkin). Dalam hati mungkin dia berkata, “ Datanglah angin! Aku siap menyambutmu…sekencang apapun engkau bertiup takkan mampu sedikitpun menggoyahkanku!”

Saya sebagai jentelmen kan jadi kasihan dan berniat menawarkan bantuan. Tapi saya nggak mungkin kan memegang rambutnya untuk melindungi dari angin ataupun menawarkan untuk memegangi dan menahan rok-nya supaya nggak dikibar-kibarkan angin. Jadi saya mendekatinya dan bilang, “Mbak…boleh saya bantu pegang handrail-nya?”

Dia menatap saya dan berteriak, “NGGAAAAAK PENTIIIIIIIING!!!!!”

Iklan




SEMARANG: MEREKAM JEJAK MASA LALU…

6 02 2009

Kira-kira setahun yang lalu…

“Setasiun Tawang, nggih pak…!”

Saya meminta tukang becak untuk mengantarkan saya ke Stasiun Tawang. Saya selalu suka naik becak. Ada kenikmatan tersendiri duduk di atas jok kulit sintetik yang sudah bolong-bolong itu. Satu lagi perjalanan naik becak membuat saya bisa melihat pemandangan dan suasana di depan pandangan saya seperti menonton film dengan bagian depan becak yang menganga terbuka sebagai layarnya. Pemandangan berlalu silih berganti, mengalir, tak perlu di-rewind segala lah…Pemandangan di depan tak perlu juga untuk buru-buru kita lalui, jadi tak usah mem-fast forward juga. Semua berjalan santai, tak tergesa-gesa. Jadi kalau mau buru-buru…ya jangan naik becak!

“Ajeng teng pundi, mas? Jakarta nggih?”

“Mboten pak, kulo ajeng mlampah mlampah mawon teng kota lama….”

“Ooooo……….!”

Tak lama becak memasuki wilayah kota lama. Jalan yang diperkeras dengan conblok menjadi tandanya. Stasiun Tawang terlihat di depan. Bau busuk saluran air yang mampet menyambut. Entah mengapa saya jadi ingat Jakarta.

Turun di depan Stasiun Tawang, memandang ke arah kota lama saya disuguhi pemandangan Polder Tawang yaitu kolam besar yang fungsinya sebagai suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama (menurut situs resmi pemerintah kota Semarang). Semarang terutama daerah ini memang sering didatangi oleh yang namanya Rob. Bukan Rob Thomas-nya Matchbox 20, tapi luapan air laut. Posisi daerah kota lama ini memang di bawah permukaan laut. Beberapa genangan masih terlihat di beberapa tempat, saya berani bertaruh airnya pasti terasa asin. Tapi saya tidak akan mencobanya.

dok. pribadi

dok. pribadi

Saya melanjutkan langkah meniti tepian kolam. Sebuah kanal kecil membentang dengan sebuah pintu air disana, sementara di pinggir deretan bangunan tua yang terlihat tak terawat berdiri dalam sepi. Plang milik sebuah organisasi underbouw salah satu parpol terpampang di salah satu dinding yang menua, rapuh, dan mulai bolong. Beberapa gelandangan dan pengemis tampak berkeliaran. Ada yang hanya duduk duduk saja, mengorek ngorek tempat sampah, dan bahkan ada yang buang air besar di selokan. Saya hampir tertawa saat melihat hanya sekitar 1 meter dari kegiatan buang hajat itu, seorang bapak tampak sedang nikmat makan baso di gerobak penjaja bakso keliling. Sementara anak-anak kecil membawa alat pancing berlarian menuju arah kolam…salah satunya yang naik sepeda nyaris menabrak saya. Ia langsung mengayuh sepedanya dengan kencang sembari nyengir ke arah saya. Saya nyengir juga jadinya.

Saya berjalan untuk masuk lebih dalam melalui beberapa gang disana. Semakin ke dalam suasana semakin sepi, hanya sesekali terlihat satu dua orang melintas dan satu dua sepeda motor lewat memecah kesunyian. Mungkin karena siang ini hari libur saja suasananya sepi, karena pada hari biasa daerah ini cukup ramai. Daerah ini pada hari biasa memang merupakan daerah perkantoran, dan dikelilingi oleh daerah industri dan perdagangan meskipun tidak seramai dahulu. Terjadi penurunan pada fungsi bangunan dan pemanfaatannya dengan hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan atau malah tak digunakan sama sekali sehingga banyak yang terbengkalai.

Hari ini saya seperti berada di kota mati. Bukan kota yang mati seutuhnya memang. Mungkin hanya mati suri, menunggu untuk dibangkitkan kembali. Entah bagaimana kondisinya saat malam hari…perasaan saya mengatakan tempat ini akan menjadi kota hantu. Gelap dan menyeramkan.

Waduh…tanpa terasa tinggal 1 jam lagi kurang lebih waktu saya. Saya melanjutkan langkah dengan cepat melewati gang-gang kecil yang embuat saya seperti terjebak dalam labirin ruang dan waktu, masa lampau kembali hadir di sini. Tak berapa lama di ujung gang sana sebuah siluet indah berdiri dengan megahnya. Itulah gereja Immanuel Semarang yang karena bentuk atapnya lebih dikenal dengan bahasa lokal sebagai Gereja Blenduk.

dok. pribadi

dok. pribadi

Gereja Blenduk ini sepertinya merupakan “cabang” dari gereja Immanuel Jakarta yang terletak di seberang Stasiun Gambir. Habis agak mirip. Didirikan pada tahun 1753, gereja ini menurut informasi telah mengalami beberapa kali pemugaran. Dari yang awalnya mengadaptasi arsitektur jawa dengan atap tajuk kemudian mengalami renovasi total pada tahun 1787, dan terakhir pada tahun 1894 dilakukan pembangunan dua buah menara jam di bagian depan gereja. Arsitekturnya bisa digolongkan ke dalam arsitektur Neo Klasik. Siluetnya serupa dengan gereja-gereja zaman barok namun minim pengolahan detail. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang sering dikunjungi turis lokal, interlokal, maupun internasional.

Gereja Blenduk dan daerah sekitarnya konon merupakan pusat Kota Lama Semarang. Kawasan ini memang dirancang seperti struktur kota-kota di eropa dengan pola memusat, terletak di dalam benteng, dengan sisi luar berbentuk segi lima sehingga dulu dikenal dengan nama Kota Benteng. Kawasan kota lama Semarang dulu dikenal juga dengan nama Outstadt sementara benteng yang mengelilinginya bernama benteng de Vijhoek.

Sayang, gereja hari ini ditutup sehingga saya tidak bisa masuk untuk menikmati suasana interiornya, untuk jepret sana sini. Saya harus berpuas diri dengan melihat-lihat bagian luarnya saja. Kalaupun diberi kesempatan masuk pun waktu saya tidak banyak lagi. Kurang enak rasanya menikmati sesuatu dengan serba terburu-buru. Jadi sedikit lihat-lihat…jeprat jepret bagian luar…dan saya harus pergi lagi. Huaaaahhhhh…..nggak puas!

dok. pribadi

dok. pribadi

(Ini sebenernya postingan pindahan dari blog saya yang terbengkalai. Dan cuma ada satu artikel ini aja. Daripada nganggur ya dilempar kemari. Sebuah cerita dari jalan-jalan bego sendirian di kota lama Semarang waktu pulang kampung.)

sebagian data diambil dari om wiki dan Kota Semarang punya web, sebagian lainnya sok tahu-nya saya aja.