PAK…BU…YA…!

30 11 2009

DI DALAM BUS KOTA…

(1)

“Iya…Selamat siang Pak..Bu..ya. Di sini kami meminta waktu anda sebentar Pak..Bu..ya. kami akan memperkenalkan produk lem power impor dari Korea. Ini lem serbaguna Pak..Bu..ya! Sangat kuat dan tahan lama, Pak..Bu..ya. Bisa dipergunakan untuk bermacam jenis bahan. Piring atau gelas pecah, kaca, keramik, kayu dan juga besi, Pak..Bu..ya. Tinggal teteskan sedikit saja, rekatkan, dan tunggu 20 detik maka barang akan terekatkan dengan kuat, Pak..Bu..ya. Cukup dengan lima ribu rupiah saja, Pak..Bu..ya. Silakan dilihat dulu.”

(2)

“Dibaca…dibaca…tabloid kesehatannya untuk teman dalam perjalanan, Pak..Bu..ya. Isinya lengkap tentang inpo-inpo kesehatan terbaru, Pak..Bu..ya. Penyakit tipes, Pak..Bu..ya. Banyak orang yang belum tahu kalau penyakit tipes bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya, Pak..Bu..ya. Nah, hal itu dibahas secara lengkap di sini, Pak..Bu..ya. Juga khasiat bunga rosela untuk kesehatan kita, ditambah tips kesehatan dari selebriti ibukota. Aaaaa….kalau di luar tabloid ini dijual dengan harga lima belas ribu, Pak..Bu..ya, maka di sini anda cukup mengeluarkan uang sebesar lima ribu rupiah saja Pak..Bu..ya. Lima ribu rupiah saja. Silakan…Pak….Bu….!?”

(3)

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Selamat siang Bapak, Ibu, dan sodara sekalian! Kami di sini membawakan kepada anda sekalian, Pak..Bu..ya, sebuah filem produksi holiwut yang sangat dahsyat dan saat ini sedang merajai bioskop-bioskop di seluruh dunia. Dan sekarang, Pak..Bu..ya, juga sedang diputar di bioskop-bioskop nusantara. Iyaaa…ini dia filemnya, Dua Ribu Dua Belas. Mengisahkan tentang kehancuran dunia, Pak..Bu..ya. Juga perjuangan manusia untuk bertahan hidup, Pak..Bu..ya. Bisa dibawa untuk hiburan anda di rumah. Daripada anda menonton di bioskop Dua Satu, Pak..Bu..ya, dengan ini anda bisa menikmatinya bersama keluarga di rumah sambil bersantai. Silakan…cukup dengan sepuluh ribu rupiah saja, Pak..Bu..ya. Sepuluh ribu rupiah saja dan anda bisa menonton di rumah filem yang menggegerkan ini. Yak…betul, tentang kehancuran dunia. Tapi ini cuma filem, Pak!”

(4)

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak..Bu..ya. Dan salam sejahtera untuk anda yang beragama lain. Mohon maaf bila mengganggu perjalanan anda. Kami dari seniman jalanan, Pak..Bu..ya, akan menghibur anda sekalian dengan beberapa buah lagu.

[plak..plok…plak…plok…plak…plok…tepuk tangan]

Ibu-ibu, bapak-bapak siapa yang punya anak …tolong aku [keplak..keplok]

Kasihani aku…tolong carikan diriku kekasih hatiku. Siapa yang mau…? [keplak…keplok…]

Bangun tidur…tidur lagi…bangun lagi…tidur lagi… [keplak…keplok]

Banguuuuuuuuun…tidur lagi… [keplak…keplok…]

Yak..demikianlah persembahan dari kami, Pak..Bu..ya. Semoga berkenan di hati anda. Bukan jumlah pemberian yang kami harapkan tapi keikhlasan anda sekalian, Pak..Bu..ya. Seribu dua ribu mungkin tidak berarti untuk anda, tapi sanagt berarti bagi kami. Terima kasih, dan sekali lagi, Pak..Bu..ya, kami mohon maaf bila mengganggu perjalanan anda dan bila ada yang tidak berkenan. Semoga selamat sampai di tujuan, Pak..Bu..ya. Hati-hati dan jaga barang-barang anda jangan sampai hilang atau berpindah tangan. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

DI RUMAH…

“Pak…Bu..ya!? Minta duit ya…!? Buat jajaaaaaan….huuhuuhhuhuuu [mewek] masa dijajanin mulu sama temen??! Ya Pak..Bu..ya!? Otong malu nih…Otong malu nih….Otong malu nih….”

“Pak…………….Bu……………..ya???!!!!!!!!!”

[ini siapa ya yang mempopulerkan kalimat  “Pak…Bu…ya!” ? Nggak apa-apa….Cuma lagi sering dengar saja akhir-akhir ini.]





PANGGILLAH DIA LUPUS…! [TRILOGI ORANG MUDA VOL.3, TAMAT]

12 11 2009

siluet Lupus karya Wedha. ilustrator setia Lupus

Tokoh terakhir dalam trilogi orang muda Indonesia sepertinya sudah bisa dipastikan kalau melihat tokoh-tokoh pada tulisan sebelumnya. Apalagi kalau lihat siluetnya di atas. Rambut jambul dan gelembung yang ada di mulutnya itu membersitkan sebuah nama….Lupus!

Tokoh Lupus ini ceritanya tidak sesuram dan segelap Ali Topan, juga lebih membumi daripada Si Boy. Lebih mendekati realita remaja ibukota pada tahun sih. Tidak digambarkan terlalu sempurna, tapi juga tidak hancur-hancuran. Profil remaja sederhana, anak SMA, suka makan permen karet (permen karet sampai jadi ngetop waktu itu), sedikit gondrong (yang katanya mirip John Taylor, bassis-nya Duran Duran), suka mengejar-ngejar bis kota, suka ngocol (ngocol itu apa ya bahasa sekarangnya..?), tapi  juga aktif dan kreatif. Ceritanya yang ringan, kocak, dan dekat sekali dengan kehidupan remaja (pada umumnya) membuatnya sosoknya mudah diterima dan melekat dalam hati dan sanubari (caileee…!) anak muda.

Lupus berasal dari keluarga sederhana. Dia hidup bersama ibunya dan seorang adik yang manjanya bukan main, Lulu. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, jadi ibunya sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Lupus sudah pasti bakal menjadi pengganti ibunya sebagai tulang punggung keluarga. Makanya mulai dari SMA, bocah ini sudah mulai membantu mencari uang, paling tidak untuk jajan sendiri. Sambil sekolah nyambi jadi wartawan dan penulis lepas.

Sekolah Lupus namanya SMA Merah Putih yang sepertinya fiktif. Atau ternyata ada? Saya tidak tahu. Belum pernah survey. Lagipula masa sampai survey segala, saya kan bukan mau bikin penelitian. Sehari-harinya selalu bergaul bareng gank-nya yang ajaib-ajaib semua. Ada Bo’im, yang wajahnya kurang….sempurna (hahaha..) tapi pedenya setengah mati kalau mendekati cewek sampai di-cap “playboy cap duren tiga”. Ada Gusur, sastrawan gagal (eh bukan gagal ding…cuma belum terbukti saja kemampuannya. Lagipula ceritanya masih SMA juga, masih panjang jalannya.) yang hobi membuat dan membaca puisi, apalagi untuk dipersembahkan kepada pujaan hatinya, Fifi Alone. Ada Gito yang sering nemenin Lupus sebagai tukang foto kalau ada job interview. Dan masih banyak lagi teman lainnya misal Anto, Nyit-nyit, Ruri, dll…

Selain kawan-kawan setianya, tokoh lain yang mendampingi Lupus adalah seorang guru fisika yang galak dan sangar yang dipanggil Mr. Punk. Kenapa Mr. Punk? Karena namanya Pak Pangaribuan. Singkatan namanya adalah Pak Pang, kalau di-inggris-kan jadinya ya….Mr. Punk. Juga tidak lupa gadis-gadis yang pernah pacaran sama Lupus, Poppy dan Rina.

Tokoh Lupus yang kocak ini diciptakan oleh Hilman Hariwijaya. Kurang tahu juga kenapa dinamakan Lupus (kan saya sudah bilang, saya bukan mau bikin penelitian Lupus), padahal itu kan nama penyakit. Mungkin zaman itu penyakit ini belum ditemukan. Lupus juga bisa berarti serigala dalam bahasa Latin. Apakah Lupus seperti serigala? Sudah pasti tidak, Lupus lebih mirip anak anjing yang lucu karena suka mengejar-ngejar bis kota (sadis! Masa disamain sama anak anjing hehehe…).

Buku pertamanya terbit tahun 1986 dengan judul “Tangkaplah Daku, Kau kujitak”, yang kemudian diikuti dengan puluhan judul lainnya . Pernah dibuat film dengan pemeran utama alm. Ryan Hidayat. Penciptanya sendiri Hilman Hariwijaya juga pernah memerankan Lupus di salah satu film, karena mungkin Lupus sebenarnya adalah cerminan dirinya sendiri. Sedikit “narsis” juga kalau anak sekarang bilang hehehe…Dan tokoh-tokoh kawan-kawan Lupus juga sepertinya diambil dari kawan-kawan Hilman sendiri. Jadi, mahluk-mahluk  yang namanya Bo’im, Gusur, Gito, Anto, dll itu sebenarnya nyata, dan mereka ada di sekitar kita hiiiiiii…..!!!

Dibanding tokoh lain sebelumnya, Lupus lebih lama eksistensinya. Buktinya sampai sekarang tahun 2000-an, buku barunya masih terbit. Dan yang lama masih dicetak ulang. Pernah dibuat sinetron dengan pemeran utama…eh, siapa ya pemeran utamanya? Maaf, saya lupa. Makanya anak muda zaman sekarang mungkin lebih mengenal Lupus daripada tokoh-tokoh muda kita sebelumnya.

Jadi kalau kalian semua melihat seorang anak muda berjambul, sedikit gondrong, mulutnya terlihat sedang mengunyah permen karet, dan sedang mengejar-ngejar bis kota. Itulah dia. Panggilah dia….Lupus!!!

Gambar karya Wedha, ilustrator setia Lupus, diambil dari sini.