OBAMA’S FRIED CHICKEN VOL.2

24 07 2009

lanjutan dari OBAMA’S FRIED CHICKEN VOL.1

maaf untuk kawan-kawan para blogador sekalian karena sesuatu dan lain hal postingan ini tertunda dan saya belum berkesempatan untuk mengunjungi blog kalian. Sekarang kelanjutan postingan kemarin sudah bisa dilihat. terima kasih.

begini lanjutannya…

Saya pergi ke counter untuk memesankan dua potong ayam goreng dan dua minuman soda. Kemudian saya hampiri mereka. “Makannya bareng aja ya…dan musti dihabisin.” Mereka mengangguk dan beringsut pindah ke meja saya.

“Nih…pilih sendiri ya. Jangan rebutan” Saya bilang ke mereka. Salah satu dari mereka berkata, “Iya…masa sama teman rebutan. Kan nggak baik…” Andaikan saja kalimat ini didengar oleh petinggi-petinggi negeri ini.

“Kamu yang ini ya…..aku yang ini.” Yang satu berkata meminta persetujuan. Yang satunya lagi mengangguk mengiyakan.

“Nama kalian siapa?” Saya bertanya.

“Aku namanya Alma, yang ini namanya Dian.” Kata yang bernama Alma seolah-olah dia yang jadi juru bicara. Sementara yang namanya Dian cuma nyengir saja.

“Pada habis darimana?”

“Ngamen…di sana.” Tangan mereka menunjuk ke sebuah arah. “Dari terminal, terus naik turun bis.”

“Oooo….” Saya cuma bisa ber-oooo saja. Ya, Alma dan Dian itu dua orang gadis cilik yang sehari-harinya mengamen dari terminal ke terminal, dari bis kota ke bis kota. Usia mereka sekitar 6 tahunan. Badan kecil, kurus, agak dekil, rambut merah terbakar.

“Enak ya ayam gorengnya…” Yang bernama Dian tiba-tiba angkat bicara.

“Eeh..ini bukan ayam goreng.” Saya menyelak. “Maksudnya ini emang ayam goreng. Ayam yang digoreng. Tapi kalau di sini nyebutnya bukan ayam goreng, tapi fried chicken.”

Mereka nyengir. Bingung.

“F-R-I-E-D-C-H-I-C-K-E-N!” , saya mengulang.

“frait ciken…..!” mereka serentak membeo.

obama's fried chicken 2

“Nah gitu…soalnya ini ayam dari Amerika. Tempatnya koboy.” Kata saya, meskipun paling-paling peternakannya ada di Purwokerto atau Banyumas atau manalah…bukan di Texas atau Delaware atau manalah. Yang menyembelih juga mungkin masih bernama Mas Rusman atau Pak Yono bukan John atau Steve, dan nyembelihnya juga masih pakai baca Bismillah dulu. Eh…belum tentu juga ding…lha wong ternyata impor sayap dan paha ayam untuk konsumsi kita dari sana cukup banyak juga, sampai-sampai diprotes sama peternak ayam lokal. “Tahu Amerika nggak?”

“Tau. Obama…….Obama….!!!” Mereka menjawab. Wuaahhh…hebat! Obama benar-benar ngetop di sini. Dan mungkin malah mereka belum tentu tahu Rhoma Irama itu siapa. Ini bikin saya was-was. Jangan-jangan mereka juga nggak tahu siapa presiden kita.

“Kalau presiden Indonesia?”

“SBY…!!!” , seru mereka berbarengan. Ah…saya terlalu meremehkan mereka. Ternyata masih ada harapan untuk bangsa ini (Waduh…saya bisa dikira kampanye nih! maklum penghitungan suara belum final. Perhatian saudara-saudari…ini nggak ada hubungannya dengan dukung mendukung capres manapun ya. Netral. Hanya menghadirkan fakta semata).

Mereka kemudian saling nyerocos. Bercerita pengalaman mengamen hari itu. Semua diceritakan dengan ceria, seperti nggak ada beban apapun yang menghimpit hidup mereka. Layaknya permainan saja. Hidup seperti berjalan tanpa kesulitan yang berarti.

Dunia sepertinya selalu indah dalam kacamata mereka. Mata-mata bening yang begitu polos memandang dunia. Tangan-tangan kecil yang tanpa mereka sadari sudah harus memikul beban hidup. Jalanan yang keras, terminal yang ramai, lorong antara bangku-bangku bis kota jadi arena bermain mereka. Sekaligus tempat cari uang.

Dalam hati saya tersenyum. Di sini. Di sebuah meja di sudut kecil yang egaliter ini, tanpa mempermasalahkan status sosial, jenis kelamin, usia, suku, agama, kami duduk bersama. Sebuah Indonesia kecil yang indah. Saya jadi terseret masuk dalam sudut pandang mereka. Tanpa beban. Benar-benar menganggap nggak penting segala perbedaan dan segala yang terjadi di luar sana.

Tiba-tiba mereka menoleh ke arah luar, tangan-tangan mereka menunjuk ke luar, dan memanggil-manggil seseorang. Di luar tampak seorang anak laki-laki yang lebih besar sedikit dari mereka memandang ke dalam sambil nyengir, dan kemudian lari menyusul ke dalam.

“Ini kakak aku, namanya……” Dian memperkenalkan anak tadi yang ternyata kakaknya, sambil menyebutkan sebuah nama yang saya lupa. Usianya sekitar 8 atau 9 tahun mungkin. Karena saya lupa namanya, kita panggil saja dia……….George.

“Dian dicari ibu.” Kata George sambil mencuil-cuil potongan ayamnya Dian. Dian masih asik, sepertinya masih mau tetap di sini.

“Eh..iya tuh bener…kamu dicariin tuh!” Kata Alma sambil menunjuk-nunjuk ke luar. Saya juga coba melihat ke luar. Tapi nggak lihat dengan jelas dimana posisi ibunya Dian.

“Kak, aku makan di luar aja ya…sama ibu.” Dian meminta persetujuan.

“Ya udah…diplastikin aja ya makanannya. Tunggu si sini dulu.” Sayapun menuju counter untuk meminta plastik dan memesan lagi untuk George dan ibunya. Saya berikan ke George. Mereka nyengir, mengucapkan terima kasih, dan berlari ke arah seberang jalan. Pandangan saya mengikuti kemana mereka berlari, hingga akhirnya hilang di kegelapan.

Anak-anak Indonesia yang terlupakan. Untuk kalian bertiga, jangan biarkan ada orang yang meremehkan kalian ya. Bilang sama orang-orang yang meremehkan kalian, kalau kalian juga pernah makan ayam goreng Amerika. Tempatnya Obama sana. Soalnya di sini standarnya masih begitu. Kurang keren kalau nggak berbau luar negeri. Dan kalau orang-orang nggak percaya biarkan saja, yang penting kalian kan nggak bohong. Dan yang terutama jangan sampai kalian yang meremehkan diri kalian sendiri.

Saya nggak tahu Tuhan punya rencana. Mungkin suatu saat kalian bisa ke Amerika. Mungkin saat itu presiden Amerika sudah bukan Obama. Mungkin waralaba restoran Indonesia sudah banyak di sana (atau malah kalian yang buka). Mungkin musuh Amerika bukan Osama. Mungkin malah nggak punya musuh, sebab nggak ada permusuhan dan peperangan lagi di dunia. Obama, Osama, o…mama, o…papa, olala……..indahnya!!!

Kalian bisa bilang langsung ke Obama…

“Hello mister Obama…How are you today?”

“Your fried chicken tasted good! would you like to try our “tempe goreng” ?”

aduuuh…ngelantur kemana-mana nih…

-TAMAT-