NEAR DEATH EXPERIENCE

22 05 2009

Apakah kalian pernah mengalami yang namanya Near Death Experience? Belum…? Syukurlah kalau begitu. Saya beberapa hari yang lalu mengalami yang kaya gitu. Memang belum sampai tahap yang menurut kata orang-orang yang pernah mengalami adalah “melihat pemandangan indah” atau “melihat cahaya terang” (dan yang kata orang juga….stay way from the light!  Kalo nggak, bisa “liwat” ente…!). Tapi meskipun begitu ya cukup teganglah…

Memang saya nggak sampai koma atau hilang kesadaran (meskipun saya ini sering nggak sadar diri), saya cuma mengalami peristiwa yang hampir bikin nyawa saya melayang. Orang jawa bilang nyowo saringan nih. Begini ceritanya….mau dengar nggak? Lho kok enggak……? HARUS!!! karena saya orangnya pemaksa……

Jadi begini, Jumat malam lalu saya ke Depok untuk urusan aktivitas rutin bersama teman-teman. Dan biasanya pula sehabis rutinitas itu selesai  ada ritual lagi berupa sekedar ngeteh dan ngopi di warung kopi pastinya, bukan di toko bangunan. Dan karena ternyata malam itu peminatnya sedikit, jadi tinggal saya dan satu teman lagi Mr. Satan yang menjalankan ritual nyruput kopi atau teh…

Di warung itu setelah pesan minuman (saya juga pesan makanan lho….nggak penting ya) kami ngobrol masalah yang lagi hangat soal capres-capresan dan segala tetek bengeknya (maaf ya…tetek pada tetek bengek bukan berkonotasi porno. Kalau belum paham, maksudnya tetek di situ bukan berarti payudara…HALAH, kok malah saya perjelas? Tapi lagian kalo maksudnya  payudara dan saya bilang payudara juga masa mau dibilang porno?……payudara, payudara, payudara!!! Tuh kan nggak apa-apa…kecuali kalau saya bukannya bilang tapi malah saya gambar).

Sori…ini kok merembet kemana-mana ya…

Singkat kata singkat cerita, pas lagi ngobrol panjang lebar Mr.Satan pergi sebentar ke mobilnya (mungkin memastikan bahwa mobilnya masih Isuzu Panther dan belum berubah jadi Nissan Skyline), sementara saya masih asik nggayemi makanan….saya terjemahkan dulu, nggayemi itu maksudnya…apa ya? Yah pokoknya menikmatilah. Saat makan itulah tiba-tiba sekonyong-konyong koder terdengar suara BRAKKKK!!! yang kencengnya setengah mati. Baru setengah aja udah ngagetin apalagi satu atau dua.

Wah…saya berpikir jangan-jangan mobil Mr.Satan kesenggol mobil lewat. Karena parkirnya memang di pinggir jalan, cuma ya mepet badan jalan. Sambil berpikir saya pun melongok mencoba memastikan kondisinya (masih dalam posisi duduk, dan tangan hendak menyuapkan sendok ke mulut…sembari kepala menengok). Nah…saat itulah saya lihat ada angkot omprengan meluncur ke arah warung…YA, WARUNG INI…TEMPAT KAMI NGOPI INI! KE ARAH SAYA YANG LAGI DUDUK DI UJUNG PALING PINGGIR  MEJA…

Dan kejadian seperti yang terjadi di sinetron mungkin benar adanya. Saya yang refleksnya memang kurang bagus, cuma bisa duduk bengong mematung, posisi tangan masih hendak menyuapkan makanan ke mulut. Nggak ada acara teriak panik juga, wong saya orangnya kurang ekspresif. Yahh…cuma bengong menonton saja angkot omprengan yang dengan begitu percaya dirinya meluncur ke arah saya, menabrak dan merobohkan tiang penyangga warung, membuat kain penutupnya dan terpalnya jatuh, mengakibatkan tercabutnya kabel listrik penerangan warung, untuk kemudian angkot omprengan nyasar itu berhenti kira-kira sejengkal dari saya.

……………

……………

Tenang…tenang…Alhamdulillah wa syukurilah saya nggak apa-apa. Malah ketika semuanya sudah berakhir saya masih bergeming, tetap dalam posisi duduk mau nyuap makanan.

Lho…siapa yang nanyain? Yang baca juga pada nggak peduli….mereka malah mau tahu itu warungnya gimana keadaannya?

Wah….semprul! Tiang warungnya memang ambruk, lampu mati, tapi meja dan dagangannya nggak kenapa-kenapa. Sopir dan penumpang angkot omprengan yang duduk di depan meskipun terlihat shock juga nggak apa-apa. Untungnya angkot omprengan itu nggak meluncur kencang sekali, dan sopir masih bisa menguasai kendaraan. Jadi kerusakan yang ditimbulkan nggak parah, dan nggak jadi masuk koran besok pagi. Wah nggak kebayang rasanya membayangkan bisa jadi nama saya masuk koran untuk kedua kalinya (yang pertama adalah waktu pengumuman UMPTN). Jadi sepertinya angkot omprengan itu memang mau menurunkan penumpang sehingga pas melambat. Nah, waktu itulah dari arah belakangnya sebuah bis hendak menyalip, tapi sayang seribu sayang manuvernya nggak sempurna dan nyundul bagian belakang angkot omprengan.

ilustrasi terinspirasi warta kota dan lampu merah

ilustrasi terinspirasi warta kota dan lampu merah

Setelah membereskan reruntuhan di dekat saya, saya berdiri. Hoalaaah…..lemes bener kaki ini ternyata. Masih agak gemetar. Seorang ibu duduk di dekat warung dikerubungi beberapa orang, ternyata kakinya agak sedikit keseleo. Sepertinya ibu itu adalah penumpang yang hendak turun. Setelah dipijit-pijit sedikit, sepertinya ibu itu sudah lebih baik kondisinya. Saya nggak tahu masalah ini selesainya gimana tiba-tiba saja orang-orang itu kok pada langsung pergi lagi. Waduh…ya sudahlah, sepertinya sudah diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Mobil Mr. Satan yang saya kira kena sruduk juga ternyata nggak apa-apa.

Saya dan Mr.Satan masuk lagi ke warung. Dua orang mas-mas penjaga warung sedang membereskan sisa serangan tadi. Nggak berapa lama warung sudah kembali seperti semula. Saya lanjut makan lagi. Si mas cerita, dulu juga pernah ada motor yang pengendaranya ngantuk dan nabrak warung ini. Kejadian seperti itu cukup sering malah katanya.

Walah….warung apa ini? Jangan-jangan warung terkutuk? kok bisa-bisanya sering kena tubruk. Atau mas-masnya ini yang terkutuk? Atau sopir omprengan dan bis tadi yang terkutuk? Mungkin malah sebagian atau seluruh penumpang omprengan juga terkutuk? Harus tobat semua itu….!!! Ahhh…tapi mungkin bukan. Kita memang terlalu mudah untuk menilai dan mencari kesalahan orang lain. Dan juga terlalu mudah untuk menilai bagaimana orang lain seharusnya bertindak. Tapi sulit ketika itu harus berlaku untuk diri kita sendiri.

Aaah…mungkin justru sayalah yang terkutuk, dan sedang diingatkan sama Tuhan. Alhamdulillah masih dikasih kesempatan…

Keterangan:

Angkot omprengan: angkot nggak resmi berupa mobil pick up yang bagian belakangnya ditutup terpal, dikasih tempat duduk, dan pastinya digunakan untuk mengangkut orang.





BOLONG…

12 05 2009

es bolong

Suatu hari saya sama teman nongkrong di sebuah tempat makan dan minum yang biar sedikit gaya kemudian disebut dengan kafe. Nongkrong sembari ngomongin kerjaan. Setelah pesan makan dan minum kamipun duduk.

Nggak berapa lama pesanan pun datang. Haus setengah mati memaksa saya menyedot langsung minuman yang diantarkan. Lha kok…bukan haus yang hilang tapi napas saya habis. Gimana nggak coba…lha wong nyedot sampai pipi kempot kok cairan minum itu nggak sampai-sampai di mulut saya. Awalnya saya mengira itu adalah kerjaan penunggu tempat itu, yang nggak suka sama saya. Tapi ternyata setelah diselidiki, Alah makjan…!!! sedotannya sobek, meninggalkan lubang di sampingnya.

Saya langsung mendatangi waitress-nya…

“Mbak…”

“Iya mas, bisa dibantu?”

“Ini…sedotan saya bolong. Bisa minta gantinya nggak?”

“Ooo..bisa mas. Sebentar ya…” Si mbak berbalik dan menyerahkan sebilah (sebilah? Emang pedang?) sedotan yang masih dibungkus kertas. “Ini mas…”

Saya langsung bilang lagi, “Wah…sedotan yang ini juga bolong, mbak…”

“Hahh…masa sih mas? Dibuka aja belum!”, sambil mukanya kebingungan.

“Lha iya lah mbak…namanya juga sedotan, ya pasti bolong. Nih, coba liat ujung-ujungnya bolong kan? Kecuali namanya balok kayu, baru buntet.”

“Alah…si mas!”

Berhasil hehehe…! Ini upaya balas dendam yang sukses. Kenapa balas dendam? Soalnya saya dulu pernah gondok sama tukang jahit. Begini ceritanya:

Saya masuk ke tempat tukang jahit, mau ngejahitin celana yang bolong di daerah selangkangan (kata “selangkangan”  ini sopan nggak sih ditulis di sini? Bodo ahh…tulis aja!).

“Mau ngejahitin mas?”, tukang jahit itu bertanya.

“Iya, masa mau ngejahatin…kan nggak baik namanya, nanti saya ditangkap polisi kalo ngejahatin”

“Hehe…mau ngejahitin apa, mas? Saya nggak terima ngejahit luka tembak atau bacok ya…”

“Ini…celana saya bolong.”

“Lah…kalo bolongnya dijahit gimana makenya mas?”

“Hahh…maksudnya???” saya bingung.

“Lha iya…celana kalo nggak bolong gimana makenya?”

Semprul!

Mengenai bolong, bolong yang tidak semestinya memang bikin repot. Kalau bolong yang sudah hakikatnya lain lagi seperti halnya sedotan yang ujung-ujungnya harus bolong. Celana yang ujung-ujungnya juga harus bolong untuk meloloskan kaki kita. Coba bayangkan ya… kalo pas bangun tidur besok tiba-tiba hidung kita nggak ada lubangnya. Nggak bolong. Walah….gimana mau ngambil napas? Jadi mulut megap-megap….

Atau kalau misalnya saluran pengeluaran kotoran kita itu nggak berujung pada sebuah lubang atau bolongan yang kita kenal sebagai anus (kata “anus” ini sopan nggak sih ditulis di sini? Bodo ahh…tulis aja!), mau keluar lewat mana coba kotoran kita? Masa keluar lewat pori-pori? Jangan coba membayangkan gimana kalo eek….eh kotoran kita keluar lewat pori-pori.

Yang gawat, menyebalkan, dan mungkin bisa berbahaya adalah memang bolong yang nggak semestinya. Yang seharusnya nggak bolong….tapi bolong:

Gigi bolong….wuihhh nyut-nyutan sampe kepala!

Pertahanan bolong….wah hati-hati dijebol lawan!

Genteng bolong….siap-siap ruangan jadi kolam kalo pas hujan!

Kas perusahaan bolong….mungkin ada tikus kantor…tikus yang berdasi tapi!

Lapisan Ozon bolong…bumi makin panassss!!!

Apalagi kalau….PUNGGUNG YANG BOLONG. Hiiiiiiiiiii…!!!