KENAPA SIH MAU DIFOTO BUGIL?

30 04 2009

foto kuda nil (hippo) diambil di www.sodahead.com

foto kuda nil (hippo) diambil di http://www.sodahead.com

Kemarin saya mainan sama mbah Google. Ada hal lucu yang bikin saya tertawa sekaligus heran. Waktu saya ketik kata kunci “foto” dengan basis penelusuran web, yang muncul paling atas adalah tag “Foto Bugil” dari sebuah situs dewasa. Wow, ternyata yang namanya foto bugil itu lakunya bukan main ya…berhasil  sekali situs itu masuk urutan pertama dari 1,1 milyar hasil telusur dengan foto bugilnya. DAHSYATTT!!!

Yang membuat saya tertawa sekaligus heran adalah dari sekian banyak tema foto…berarti foto bugil itulah yang ternyata paling banyak dicari orang (kayanya cuma di Indonesia saja sih…).

Tiba-tiba muncul pertanyaan di kepala saya yang kosong ini…

kenapa sih seseorang mau difoto bugil ?(yang pasti bukan foto bugil hasil candid atau colongan ya…saya juga nggak ngomongin laki-laki yang difoto bugil ya, males! hehehe)

Di bagian akhir tulisan ini ada foto bugil yang saya colong untuk tulisan ini, sengaja nggak saya kasih link-nya, dan terpaksa saya sensor semampu saya demi menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang “tidak diinginkan”…atau justru “diinginkan” oleh beberapa pihak. Menampilkan sesosok gadis muda, cantik, dan seksi tentunya yang mempertontonkan keindahan tubuhnya untuk jadi konsumsi umum, apalagi untuk kaum lelaki yang masih masuk golongan pithecanthropus erecsitrus (manusia berotak purba yang ereksi terus). Saya juga dulu waktu masih muda dan bandel (kayak udah tua aja…) pernah termasuk golongan itu juga, senang lihat yang seperti itu. Sekarang sih bukannya nggak senang (bohong saya kalau bilang nggak senang…cuma ya nggak nyari-nyari deh kayak gituan kecuali nggak sengaja ya hehehe…). Malah cuma bikin uring-uringan dan pusing kepala aja…lha belom nikah jee. Lagian lihat foto begitu bosan juga kan…lha wong secara umum bentuknya ya nggak jauh-jauh beda amat yang satu dengan yang lain, dari dulu sampai sekarang.

Kembali ke pertanyaan di atas, apa sih yang ada dalam pikiran gadis-gadis muda itu? Bahkan ada pula yang benar-benar masih bau kencur, usia 15-17 tahun yang rela berfoto bugil. Apa karena uang, mencari popularitas, alasan seni, atau memang ya…ternyata menyenangkan saja untuk mereka?

Kalau untuk alasan uang dan popularitas masa sih gadis-gadis muda seperti mereka nggak bisa mencari cara yang lebih “normal” sih, jadi model foto yang masih memakai baju kan juga bisa. Alasan untuk seni? Nah…masalahnya banyak dari foto-foto tersebut yang secara artistik ya nggak ada artistik-artistiknya sama sekali, mulai dari modelnya (yang agak…maaf, kurang oke), tata cahayanya standar atau malah minus, wardrobe (eh, yang ini sih nggak perlu), set-nya asal-asalan, dan sudut pemotretannya yah kurang oke…tukang foto keliling kaya saya juga bisa motret kaya gitu. Kalau alasannya ternyata mereka senang melakukannya tanpa ada pertimbangan ini-itu…yah panggilan jiwa mungkin, saya nggak bisa ngomong apa-apa lagi deh. Nyerah

(Jadi ingat sama kampanye inspiratif “JANGAN BUGIL DEPAN KAMERA” tahun 2007 kemarin. Nggak tahu efeknya sekarang gimana. Mudah-mudahan bugilnya nggak jadi pindah di belakang kamera…)

Dan sekarang saya malah sedih dan ngeri kalau memikirkan mereka tentu punya keluarga. Punya Ibu, ayah, kakak, atau adik. Apa jadinya perasaan orang tua ketika mengetahui anak gadisnya berfoto bugil…langsung jantungan bisa-bisa. Aduh jeng…jeng…kasihan orang tua kalian…

Pernah terbersit keinginan untuk bertanya langsung ke model-model foto bugil ini. Mengadakan wawancara singkat cuma sekedar mau tahu kenapa sih mereka sampai mau difoto bugil. Alasan apa yang membuat mereka rela beresiko masuk angin seperti itu…

Yang baca nanya: Wawancaranya pakai bugil segala nggak?


mmmm…….gimana ya….? mikir….mikir….mikir…

foto-bugil-sensor1

(foto di atas ini adalah foto bugil yang saya comot secara semena-mena untuk kepentingan tulisan ini. Sengaja nggak saya pasang link-nya, soalnya nanti takutnya pada berduyun-duyun kesana. Dan saya sensor seperti sudah saya bilang tadi…kalau jadinya gelap begini ya memang begitu adanya. Kan saya bilang saya sensor “semampu” saya, kalu disensor per bagian repot sekali, ya saya sensor saja semuanya. Sori ya buat yang tadi langsung scroll down……ente ketipu! hayo ngaku…lagian ngebet banget sih…hehehe)





IBSN: MERAYAKAN HIDUP

22 04 2009

Senin tanggal 20 April kemarin adalah hari dilahirkannya saya di dunia ini. Setelah menyetujui draft kontrak dalam kehidupan dan teken kontrak dengan Sang Pencipta, sayapun dibrojolkan 30 tahun yang lalu.

Biasanya sebuah perayaan akan dilakukan untuk memperingati atau sebagai penanda sebuah kejadian, termasuk kelahiran atau kita biasa sebut sebagai ulang tahun. Hari lahir kota Jakarta, hari kemerdekaan, hari ulang tahun pernikahan adalah beberapa contoh lainnya. Dan biasanya pula sebuah perayaan akan ditandai dengan acara pesta, baik yang skalanya besar-besaran sampai yang kecil-kecilan.

“Ayolah, setahun sekali ini…!” begitu kira-kira ungkapan yang sering keluar, sehingga paling tidak tiap orang merayakan sesuatu setahun sekali…yaitu ulang tahunnya. Sesuatu yang harus “ditandai” dan diberi makna (belum termasuk perayaan hari-hari besar nasional atau agama).

Saya sendiri bukan orang yang biasa merayakan sesuatu, apapun itu, apalagi dengan skala yang besar-besaran. Kalau skala kecil-kecilan yah…masih pernah kadang-kadang, itu juga kecil sekali. Dan yang masih sering muncul adalah pertanyaan, apa sih yang sebenarnya saya rayakan. Apakah saya merayakan lahirnya saya ke dunia? Apakah saya merayakan keberhasilan mencapai sebuah fase waktu tertentu dalam hidup saya? Apakah saya merayakan pencapaian saya selama hidup? Atau….atau…..merayakan hidup itu sendiri?

Yang pasti dalam ulang tahun saya tidak ada lilin yang ditiup, tidak ada acara potong kue, tidak perlu ada kata-kata sambutan. Yang saya sangat bersuka cita dan berterima kasih adalah ucapan-ucapan selamat yang ditujukan ke saya, mulai dari yang serius sampai ke yang konyol. Itu menjadi doa buat saya. Sebuah perayaan kecil dalam hati saja.

Hingga sehari setelah ulang tahun saya, ada sebuah sms masuk ke hp saya:

Sebuah sms yang di-forward oleh Bunda Lina tentang telah berpulangnya seorang blogger sahabat, adik, kakak, atau bahkan anak kita semua Sassie Kirana pada hari Senin 20 April dinihari, setelah bergelut sekian lama dengan penyakit yang dideritanya.

Saya pribadi tidak terlalu mengenal Sassie kecuali dari blog dan tulisan-tulisan di dalamnya, tapi kabar ini sempat membuat saya tercenung beberapa saat. Sementara di satu sisi saya sedang merayakan hidup, ternyata di sisi lain justru ada seseorang yang catatan perjalanan hidupnya sudah harus berakhir. Dia yang masih begitu muda. Seharusnya masih panjang perjalanan yang harus ditempuhnya. Masih banyak hal-hal yang harus dicapai dalam hidupnya.

Saya buka lagi blog http://sachzqirana.wordpress.com. Memberikan ucapan belasungkawa di tulisan terakhirnya. Saya membaca lagi beberapa tulisan Sassie yang terdahulu. Penuh ungkapan perasaan jiwa. Kebanyakan menampilkan keceriaan khas anak muda yang sarat energi. Meskipun sebagian ada pula yang menampilkan kondisi jiwa saat dia berada di titik terendah hidupnya, namun semua dihadirkan sekaligus bersama semangat untuk bangkit dan kebesaran hati untuk menerima dan menjalani hidup.

Saya salah. Usia tidak bisa dijadikan ukuran pencapaian hidup seseorang. Tidak bisa juga dijadikan patokan tingkat kedewasaan seseorang. Di usia yang masih begitu muda, pencapaian hidup dan tingkat kedewasaan Sassie mungkin lebih tinggi dari saya yang lebih tua.

Saya baru sadar, Sassie memberikan pelajaran berharga untuk saya, bahkan mungkin kita semua tentang bagaimana sesungguhnya merayakan hidup. Hidup tidaklah harus dirayakan dengan hingar bingar sehingga kadang kehilangan makna dan ke-puitis-annya. Hidup dirayakan dengan laku sunyi, ritual khusuk yaitu menjalani hidup itu sendiri dengan segenap daya, ketabahan hati, dan semangat.

Hidup juga tidak dirayakan setahun sekali, enam bulan sekali, atau sebulan sekali. Kita harus merayakan hidup setiap hari, setiap saat. Sejak kita mulai terjaga dan membuka mata dari tidur lelap kita. Dimulai dengan bersyukur bahwa kita masih bisa menikmati hidup, kemudian menjalaninya dengan kekuatan terbesar yang kita miliki. Dan yang pasti memberinya makna untuk kita sendiri atau mungkin orang lain. Sampai saatnya kita harus menyerah kepada takdir. Ah…menyerah mungkin bukan kata yang tepat. Menyerah berarti menghadapi takdir dengan kepala tertunduk, rasa kalah, dan penyesalan yang dalam. Mungkin lebih tepat “berdamai” dengan takdir. Jadi kita menghadapinya dengan kepala tegak, hati yang menerima dengan tulus, serta jabat tangan dan pelukan hangat.

lilin

Itulah yang saya lihat dari tulisan-tulisan Sassie. Setiap saat adalah perayaan akan hidup. Dengan menyalakan sebatang lilin dalam dirinya. Lilin itu tidak akan pernah ditiup atau habis, namun justru semakin terang nyalanya memancarkan daya hidup yang kuat. Memberikan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya, sampai masing-masing mampu menyalakan lilinnya sendiri. Menerangi masing-masing diri dan mungkin orang lain.

Dan cahaya itu tidak akan pernah padam…agar kita bisa belajar dan mengambil terangnya. Saya juga akan belajar dari itu.

Jadi teringat kata Maximus dalam film Gladiator: “What we do in life echoes in eternity…

Selamat Jalan sahabat…(maaf baru sebentar saya mengenalmu…)





PEMILU bukan PemILU!

9 04 2009

pemilu-small

Hari ini PEMILU legislatif. Mudah-mudahan PEMILU legislatif kali ini sukses. Bukan jadi PemILU, yang kata orang cuma kata dasar PILU diberi sisipan “em”. Bukan PemILU yang hanya menghasilkan PILU bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

Saya nggak menyontreng/menyentang hari ini, karena ternyata nggak terdaftar di DPT. Kalaupun terdaftar saya juga nggak tahu mau milih siap. Habis caleg-calegnya sebagian saya kenal sebagai artis, sebagian politikus muka lama, sisanya sebagian besar nggak kenal sama sekali meskipun beberapa minggu belakangan mungkin mukanya sering saya lihat di jalan (entah nempel di tembok, pohon, berkibar-kibar di tiang, terbentang di antara tiang listrik, atau terpampang di billboard). Partai-partai saya cuma tahu kulitnya saja, tanpa info yang mendalam tentang visi, misi, dan program kerja. Habis saya cuma nonton dangdutan waktu kampanye.

Tapi untuk saudara-saudara yang punya kesempatan memilih dan ingin menggunakan hak pilihnya silakan contreng/centang wakil yang terbaik, ikuti kata hati (nggak ada hubungannya sama partai yang pakai “hati” itu ya…), jangan terpengaruh dengan uang dan imbalan apapun. Tujuannya hanya satu hari depan yang lebih baik bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

Jadi …Selamat menyontreng/menyentang!



(kita tunggu hasilnya bersama….apapun hasilnya kita terima dengan kedewasaan dan pikiran jernih ,jangan saling gontok-gontokan. Yang menang harus rendah hati, yang kalah harus nrimo secara legowo. Sebab pemenang sesungguhnya harusnya adalah rakyat Indonesia.)





TIPS NGGAK PENTING: CARA MENDEKATI WANITA

2 04 2009

Tulisan khusus untuk para pria di luar sana…

Bagaimana cara kalian mendekati atau berkenalan dengan wanita? Kalau selama ini kalian merasa gagal mendekati atau berkenalan dengan wanita, mungkin selama ini cara di bawah ini yang kalian gunakan…

halo-cewek-cara-salah

Lihat hasilnya GAGAL TOTAL!!!…..SALAH BESAR!!!

Saya juga pernah melakukan hal ini dan itu adalah kesalahan yang sangat patut untuk disesali. Apa kalian pikir wanita akan luluh hatinya kalau kita kaum pria melakukan pendekatan seperti itu? Kalian anggap apa mereka? Coba lihat contoh di atas, kita akan dianggap tidak tahu adat, kampungan, dan nggak makan sekolahan. Coba kita sama-sama berpikir, apa yang sebenarnya para wanita inginkan dari seorang pria, dan kesan pertama yang seperti apa yang mereka inginkan dari seorang pria yang mencoba mendekatinya?

Jawabannya bisa kita lihat pada ilustrasi di bawah ini…

halo-cewek-cara-benar

Ini baru cara yang benar….ngaca, mukenye dong mas diganti!

(kabuuuur…sebelum ditimpuk sendal sama cewek-cewek……dan cowok-cowok nggak ganteng, termasuk saya dong…)

HAHAHA….becanda ya…guyon…just kidding! soalnya nggak bakat bikin postingan cerdas. Pernah lihat guyonan kaya gini di salah satu episode acara Saturdat Night Live di tipi kabel jadi terinspirasi….

Untuk para wanita….PISS, saya yakin kalian nggak kaya gitu kok 🙂

dan untuk para pria nggak ganteng….memang sudah nasib kita nggak ganteng hahaha…

(foto abang saya brad pitt diambil disini, dan saya manfaatkan dengan semena-mena….)