SEMARANG: MEREKAM JEJAK MASA LALU…

6 02 2009

Kira-kira setahun yang lalu…

“Setasiun Tawang, nggih pak…!”

Saya meminta tukang becak untuk mengantarkan saya ke Stasiun Tawang. Saya selalu suka naik becak. Ada kenikmatan tersendiri duduk di atas jok kulit sintetik yang sudah bolong-bolong itu. Satu lagi perjalanan naik becak membuat saya bisa melihat pemandangan dan suasana di depan pandangan saya seperti menonton film dengan bagian depan becak yang menganga terbuka sebagai layarnya. Pemandangan berlalu silih berganti, mengalir, tak perlu di-rewind segala lah…Pemandangan di depan tak perlu juga untuk buru-buru kita lalui, jadi tak usah mem-fast forward juga. Semua berjalan santai, tak tergesa-gesa. Jadi kalau mau buru-buru…ya jangan naik becak!

“Ajeng teng pundi, mas? Jakarta nggih?”

“Mboten pak, kulo ajeng mlampah mlampah mawon teng kota lama….”

“Ooooo……….!”

Tak lama becak memasuki wilayah kota lama. Jalan yang diperkeras dengan conblok menjadi tandanya. Stasiun Tawang terlihat di depan. Bau busuk saluran air yang mampet menyambut. Entah mengapa saya jadi ingat Jakarta.

Turun di depan Stasiun Tawang, memandang ke arah kota lama saya disuguhi pemandangan Polder Tawang yaitu kolam besar yang fungsinya sebagai suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama (menurut situs resmi pemerintah kota Semarang). Semarang terutama daerah ini memang sering didatangi oleh yang namanya Rob. Bukan Rob Thomas-nya Matchbox 20, tapi luapan air laut. Posisi daerah kota lama ini memang di bawah permukaan laut. Beberapa genangan masih terlihat di beberapa tempat, saya berani bertaruh airnya pasti terasa asin. Tapi saya tidak akan mencobanya.

dok. pribadi

dok. pribadi

Saya melanjutkan langkah meniti tepian kolam. Sebuah kanal kecil membentang dengan sebuah pintu air disana, sementara di pinggir deretan bangunan tua yang terlihat tak terawat berdiri dalam sepi. Plang milik sebuah organisasi underbouw salah satu parpol terpampang di salah satu dinding yang menua, rapuh, dan mulai bolong. Beberapa gelandangan dan pengemis tampak berkeliaran. Ada yang hanya duduk duduk saja, mengorek ngorek tempat sampah, dan bahkan ada yang buang air besar di selokan. Saya hampir tertawa saat melihat hanya sekitar 1 meter dari kegiatan buang hajat itu, seorang bapak tampak sedang nikmat makan baso di gerobak penjaja bakso keliling. Sementara anak-anak kecil membawa alat pancing berlarian menuju arah kolam…salah satunya yang naik sepeda nyaris menabrak saya. Ia langsung mengayuh sepedanya dengan kencang sembari nyengir ke arah saya. Saya nyengir juga jadinya.

Saya berjalan untuk masuk lebih dalam melalui beberapa gang disana. Semakin ke dalam suasana semakin sepi, hanya sesekali terlihat satu dua orang melintas dan satu dua sepeda motor lewat memecah kesunyian. Mungkin karena siang ini hari libur saja suasananya sepi, karena pada hari biasa daerah ini cukup ramai. Daerah ini pada hari biasa memang merupakan daerah perkantoran, dan dikelilingi oleh daerah industri dan perdagangan meskipun tidak seramai dahulu. Terjadi penurunan pada fungsi bangunan dan pemanfaatannya dengan hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan atau malah tak digunakan sama sekali sehingga banyak yang terbengkalai.

Hari ini saya seperti berada di kota mati. Bukan kota yang mati seutuhnya memang. Mungkin hanya mati suri, menunggu untuk dibangkitkan kembali. Entah bagaimana kondisinya saat malam hari…perasaan saya mengatakan tempat ini akan menjadi kota hantu. Gelap dan menyeramkan.

Waduh…tanpa terasa tinggal 1 jam lagi kurang lebih waktu saya. Saya melanjutkan langkah dengan cepat melewati gang-gang kecil yang embuat saya seperti terjebak dalam labirin ruang dan waktu, masa lampau kembali hadir di sini. Tak berapa lama di ujung gang sana sebuah siluet indah berdiri dengan megahnya. Itulah gereja Immanuel Semarang yang karena bentuk atapnya lebih dikenal dengan bahasa lokal sebagai Gereja Blenduk.

dok. pribadi

dok. pribadi

Gereja Blenduk ini sepertinya merupakan “cabang” dari gereja Immanuel Jakarta yang terletak di seberang Stasiun Gambir. Habis agak mirip. Didirikan pada tahun 1753, gereja ini menurut informasi telah mengalami beberapa kali pemugaran. Dari yang awalnya mengadaptasi arsitektur jawa dengan atap tajuk kemudian mengalami renovasi total pada tahun 1787, dan terakhir pada tahun 1894 dilakukan pembangunan dua buah menara jam di bagian depan gereja. Arsitekturnya bisa digolongkan ke dalam arsitektur Neo Klasik. Siluetnya serupa dengan gereja-gereja zaman barok namun minim pengolahan detail. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang sering dikunjungi turis lokal, interlokal, maupun internasional.

Gereja Blenduk dan daerah sekitarnya konon merupakan pusat Kota Lama Semarang. Kawasan ini memang dirancang seperti struktur kota-kota di eropa dengan pola memusat, terletak di dalam benteng, dengan sisi luar berbentuk segi lima sehingga dulu dikenal dengan nama Kota Benteng. Kawasan kota lama Semarang dulu dikenal juga dengan nama Outstadt sementara benteng yang mengelilinginya bernama benteng de Vijhoek.

Sayang, gereja hari ini ditutup sehingga saya tidak bisa masuk untuk menikmati suasana interiornya, untuk jepret sana sini. Saya harus berpuas diri dengan melihat-lihat bagian luarnya saja. Kalaupun diberi kesempatan masuk pun waktu saya tidak banyak lagi. Kurang enak rasanya menikmati sesuatu dengan serba terburu-buru. Jadi sedikit lihat-lihat…jeprat jepret bagian luar…dan saya harus pergi lagi. Huaaaahhhhh…..nggak puas!

dok. pribadi

dok. pribadi

(Ini sebenernya postingan pindahan dari blog saya yang terbengkalai. Dan cuma ada satu artikel ini aja. Daripada nganggur ya dilempar kemari. Sebuah cerita dari jalan-jalan bego sendirian di kota lama Semarang waktu pulang kampung.)

sebagian data diambil dari om wiki dan Kota Semarang punya web, sebagian lainnya sok tahu-nya saya aja.