SSSTTTTTTT……..!!!

23 02 2009

SSSTTTTTTT……semua harap diam….!!!

hwaduuuh...rame ya

hwaduuuh...rame ya

Mereka lagi teriak-teriak…!!!


Tapi setelah pemilihan…


Mungkin kita harus teriak-teriak…!!!

pada kemana ini...?

pada kemana ini...?

Sebab sepertinya gantian mereka yang akan diam…


istirahat dan komunikasi memang penting

istirahat dan komunikasi memang penting

(wah…maaf ya, postingan ini kok jadi terdengar pesimis….benar-benar nggak positif. Jangan didengar ya…cuma emosi sesaat gara-gara pikiran saya yang pendek ini. Belum tentu begitu kok kondisinya nanti…)

foto “hwaduuh…rame ya?” diambil disini

foto “pada kemana ini?” diambil disini

foto “istirahat dan komunikasi memang penting” diambil disini





T3K

18 02 2009

Salam untuk para bloGador…

Kalo seseorang itu dapat yang namanya penghargaan atau apresiasi baik dari orang lain, seharusnyalah dia berterimakasih sebagai wujud penghargaan kembali untuk orang-orang yang menghargainya. Dengan kata lain, seharusnya kita sadar ketika jerih payah, karya, atau pencapaian kita dihargai orang lain itu senangnya bukan main. Jadi mbok ya kebesaran hati orang lain untuk mau mengakui hasil yang kita lakukan sebagai sebuah nilai plus itu juga dihargai. Bentuknya sih bisa macam-macam, mulai dari sekedar ucapan terima kasih, atau terus berusaha sebaik-baiknya untuk pencapaian apapun itu. Kalo hal tersebut nggak kita lakukan ya mungkin kita termasuk orang-orang yang nggak tahu berterimakasih. Atau faktor lain yang kita juga nggak tahu, asal jangan karena kita nggak tahu terima kasih..

Maksudnya apa sih? Nah…ini sebenarnya tentang saya. Sialnya saya, meskipun sudah berceloteh bijak seperti di atas ini, mungkin termasuk dalam orang yang nggak tahu berterimakasih itu. Hehehe….seperti sebuah ironi .

Intermezzo: definisikan ironi.

  • Negeri yang kaya, tapi rakyatnya kelaparan dan miskin. Setali tiga uang sama tikus mati di lumbung padi.
  • Beli es krim satu truk, tapi sampai di rumah lemari es-nya mati.
  • Kalo kata Alanis Morisette, “It’s like rain on your wedding day, It’s a free ride when you’ve already paid,It’s the good advice that you just didn’t take. Who would’ve thought… it figures…………..A traffic jam when you’re already late and no-smoking sign on your cigarette brakes, it’s like ten thousand spoons when all you need is a knife….ooooooo isn’t it ironic, don’t you think…? ooooo….”

Woyyy…mas…mas….fokus….!!!

Oiya.iya…maaf..maaf…

Nah ya itu, saya sepertinya termasuk dalam kategori orang-orang yang nggak tau berterimakasih itu. Lha gimana nggak coba? Beberapa waktu lalu salah satu artikel di blog ini tercatat sebagai artikel terbaik dalam 2nd IBSN Blog Award. Berarti tulisan saya kan dihargai, dapat apresiasi yang bagus. Dan berarti juga saya diharapkan memunculkan tulisan yang lebih baik lagi.

Tapi kok malah sekian lama saya nggak pernah posting, nggak pernah ada tulisan baru lagi. Sampai ada beberapa kawan bloGador yang mampir kemari berkali-kali tapi postingannya masih yang itu-itu juga. Bahkan sampai ada yang kasih komentar tiga kali di postingan yang sama tanpa berniat untuk hetrixxx ( berarti juga bukan karena terjangkit virus HiBloGiKoH itu hehehe…) tapi sekedar menanyakan, kok postingannya masih itu-itu aja. Apa bukan namanya saya nggak tahu terima kasih.

Iya maaf kawan-kawan…sebenarnya bukan saya nggak tau berterimakasih kok, mudah-mudahan nggak, tapi karena minggu-minggu ini kebetulan sibuk sekali, jadi saya jarang posting (si sibuk ini adalah kawan saya yang paling setia, selalu dipersalahkan tapi tetap aja menemani saya hahaha…). Makanya mungkin beberapa kawan bloGador yang sudah menyempatkan waktunya buat main kesini,  malah dapatnya suguhan yang itu-itu aja (maklum tanggal tua….eh belum ya).

Disini saya (dan Melki) juga mau mengucapkan maaf dan terima kasih banyak buat segenap punggawa IBSN. Mulai dari Kru Maintenance, Tim Penilai, dan Donatur yang memilih artikel tersebut untuk 2nd IBSN Blog Award dan untuk hadiahnya hehehe…sudah sampai di alamat yang dituju. Oiya mas Agung Mojosari dan Bunda Lina yang ngecek-in hadiahnya diterima oleh pihak yang benar atau tidak. Juga para kawan bloGador yang mengapresiasi blog ini.

gerrilya

ini dia bannernya...

Hadiah sudah diterima. Kalo nggak percaya lihat fotonya. Terima Kasih banyak kawan-kawan…

Oiya T3K itu maksudnya Tidak Tahu Terima Kasih…mudah-mudahansaya nggak kaya gitu ya.

ibsn





SEMARANG: MEREKAM JEJAK MASA LALU…

6 02 2009

Kira-kira setahun yang lalu…

“Setasiun Tawang, nggih pak…!”

Saya meminta tukang becak untuk mengantarkan saya ke Stasiun Tawang. Saya selalu suka naik becak. Ada kenikmatan tersendiri duduk di atas jok kulit sintetik yang sudah bolong-bolong itu. Satu lagi perjalanan naik becak membuat saya bisa melihat pemandangan dan suasana di depan pandangan saya seperti menonton film dengan bagian depan becak yang menganga terbuka sebagai layarnya. Pemandangan berlalu silih berganti, mengalir, tak perlu di-rewind segala lah…Pemandangan di depan tak perlu juga untuk buru-buru kita lalui, jadi tak usah mem-fast forward juga. Semua berjalan santai, tak tergesa-gesa. Jadi kalau mau buru-buru…ya jangan naik becak!

“Ajeng teng pundi, mas? Jakarta nggih?”

“Mboten pak, kulo ajeng mlampah mlampah mawon teng kota lama….”

“Ooooo……….!”

Tak lama becak memasuki wilayah kota lama. Jalan yang diperkeras dengan conblok menjadi tandanya. Stasiun Tawang terlihat di depan. Bau busuk saluran air yang mampet menyambut. Entah mengapa saya jadi ingat Jakarta.

Turun di depan Stasiun Tawang, memandang ke arah kota lama saya disuguhi pemandangan Polder Tawang yaitu kolam besar yang fungsinya sebagai suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama (menurut situs resmi pemerintah kota Semarang). Semarang terutama daerah ini memang sering didatangi oleh yang namanya Rob. Bukan Rob Thomas-nya Matchbox 20, tapi luapan air laut. Posisi daerah kota lama ini memang di bawah permukaan laut. Beberapa genangan masih terlihat di beberapa tempat, saya berani bertaruh airnya pasti terasa asin. Tapi saya tidak akan mencobanya.

dok. pribadi

dok. pribadi

Saya melanjutkan langkah meniti tepian kolam. Sebuah kanal kecil membentang dengan sebuah pintu air disana, sementara di pinggir deretan bangunan tua yang terlihat tak terawat berdiri dalam sepi. Plang milik sebuah organisasi underbouw salah satu parpol terpampang di salah satu dinding yang menua, rapuh, dan mulai bolong. Beberapa gelandangan dan pengemis tampak berkeliaran. Ada yang hanya duduk duduk saja, mengorek ngorek tempat sampah, dan bahkan ada yang buang air besar di selokan. Saya hampir tertawa saat melihat hanya sekitar 1 meter dari kegiatan buang hajat itu, seorang bapak tampak sedang nikmat makan baso di gerobak penjaja bakso keliling. Sementara anak-anak kecil membawa alat pancing berlarian menuju arah kolam…salah satunya yang naik sepeda nyaris menabrak saya. Ia langsung mengayuh sepedanya dengan kencang sembari nyengir ke arah saya. Saya nyengir juga jadinya.

Saya berjalan untuk masuk lebih dalam melalui beberapa gang disana. Semakin ke dalam suasana semakin sepi, hanya sesekali terlihat satu dua orang melintas dan satu dua sepeda motor lewat memecah kesunyian. Mungkin karena siang ini hari libur saja suasananya sepi, karena pada hari biasa daerah ini cukup ramai. Daerah ini pada hari biasa memang merupakan daerah perkantoran, dan dikelilingi oleh daerah industri dan perdagangan meskipun tidak seramai dahulu. Terjadi penurunan pada fungsi bangunan dan pemanfaatannya dengan hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan atau malah tak digunakan sama sekali sehingga banyak yang terbengkalai.

Hari ini saya seperti berada di kota mati. Bukan kota yang mati seutuhnya memang. Mungkin hanya mati suri, menunggu untuk dibangkitkan kembali. Entah bagaimana kondisinya saat malam hari…perasaan saya mengatakan tempat ini akan menjadi kota hantu. Gelap dan menyeramkan.

Waduh…tanpa terasa tinggal 1 jam lagi kurang lebih waktu saya. Saya melanjutkan langkah dengan cepat melewati gang-gang kecil yang embuat saya seperti terjebak dalam labirin ruang dan waktu, masa lampau kembali hadir di sini. Tak berapa lama di ujung gang sana sebuah siluet indah berdiri dengan megahnya. Itulah gereja Immanuel Semarang yang karena bentuk atapnya lebih dikenal dengan bahasa lokal sebagai Gereja Blenduk.

dok. pribadi

dok. pribadi

Gereja Blenduk ini sepertinya merupakan “cabang” dari gereja Immanuel Jakarta yang terletak di seberang Stasiun Gambir. Habis agak mirip. Didirikan pada tahun 1753, gereja ini menurut informasi telah mengalami beberapa kali pemugaran. Dari yang awalnya mengadaptasi arsitektur jawa dengan atap tajuk kemudian mengalami renovasi total pada tahun 1787, dan terakhir pada tahun 1894 dilakukan pembangunan dua buah menara jam di bagian depan gereja. Arsitekturnya bisa digolongkan ke dalam arsitektur Neo Klasik. Siluetnya serupa dengan gereja-gereja zaman barok namun minim pengolahan detail. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang sering dikunjungi turis lokal, interlokal, maupun internasional.

Gereja Blenduk dan daerah sekitarnya konon merupakan pusat Kota Lama Semarang. Kawasan ini memang dirancang seperti struktur kota-kota di eropa dengan pola memusat, terletak di dalam benteng, dengan sisi luar berbentuk segi lima sehingga dulu dikenal dengan nama Kota Benteng. Kawasan kota lama Semarang dulu dikenal juga dengan nama Outstadt sementara benteng yang mengelilinginya bernama benteng de Vijhoek.

Sayang, gereja hari ini ditutup sehingga saya tidak bisa masuk untuk menikmati suasana interiornya, untuk jepret sana sini. Saya harus berpuas diri dengan melihat-lihat bagian luarnya saja. Kalaupun diberi kesempatan masuk pun waktu saya tidak banyak lagi. Kurang enak rasanya menikmati sesuatu dengan serba terburu-buru. Jadi sedikit lihat-lihat…jeprat jepret bagian luar…dan saya harus pergi lagi. Huaaaahhhhh…..nggak puas!

dok. pribadi

dok. pribadi

(Ini sebenernya postingan pindahan dari blog saya yang terbengkalai. Dan cuma ada satu artikel ini aja. Daripada nganggur ya dilempar kemari. Sebuah cerita dari jalan-jalan bego sendirian di kota lama Semarang waktu pulang kampung.)

sebagian data diambil dari om wiki dan Kota Semarang punya web, sebagian lainnya sok tahu-nya saya aja.